Minggu, 24 November 2013

Urgensi Sekolah Berbasis IMTAQ


Dewasa ini, dunia pendidikan sedang gencar-gencarnya menyuarakan kurikulum baru yakni kurikulum 2013. Perbedaan yang mencolok pada kurikulum 2013 dengan kurikulum sebelumnya (KTSP) yakni terletak pada pendekatan yang digunakan serta standar isinya. Jika pada standar isi kurikulum sebelumnya menggunakan istilah standar kompetensi maka pada kurikulum baru menjadi kompetensi inti. Jika pada kurikulum sebelumnya hanya terdapat 2 aspek yakni aspek produk dan proses dalam kompetensi dasar maka pada kurikulum baru, dalam kompetensi dasar sudah mencakup 3 aspek yakni aspek produk, proses serta aspek sikap yang mengarah pada ranah religi dan sosial. Sebenarnya yang menjadi pokok di sini bukanlah perubahan kurikulumnya, akan tetapi ketercapaian atas tujuan pendidikanlah yang perlu disoroti.
Salah satu Tujuan pendidikan nasional diantaranya adalah meningkatkan keimanan dan ketaqwaan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa” dan secara tegas dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 bahwa peningkatan Imtaq merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional, yaitu ”mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, akhlak mulia, sehat, beriman, cakap, kreatif, mandiri, dan warga warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Mengapa pada salah satu tujuan pendidikan tersebut diikutsertakan “meningkatkan keimanan dan ketaqwaan” dalam mencerdaskan kehidupan bangsa? Apa pentingnya imtaq dalam dunia pendidikan? Sekarang saatnya kita melihat realitas yang terjadi saat ini. Sudah berapa kali media memuat berita tentang korupsi di negeri ini, sudah berapa banyak pemberitaan tentang tawuran antarpelajar, juga merek yang terjerumus dalam penggunaan narkotika serta penyimpangan-penyimpangan atau kenakalan remaja yang dilakukannya. Tidak kalah hebohnya, pemberitaan yang tak lama ini terjadi yakni tentang perilaku bully yang dilakukan oleh para pelajar SMP 4 di Jakarta. Pun, muncul perilaku-perilaku para pelajar kita yang cenderung memiliki sikap (budaya) hedonis dan konsumtif seiring menjamurnya teknologi saat ini, sehingga memunculkan sikap acuh dan tak acuh terhadap sesama.
Realitasnya pendidikan (sekolah) saat ini kebanyakan bersifat sekuler, tidak mengikutsertakan agama sebagai bagian dari pendidikan. Sekolah sekuler beranggapan bahwa pendidikan tidak ada sangkut pautnya dengan agama. Alhasil, generasi yang dihasilkannyapun jauh dari yang diharapkan. Ditambah lagi munculnya gaya hidup hedonis di kalangan para pelajar, sehingga esensi dari tujuan mereka sebagai seorang pelajar lama kelamaan menjadi tergerus.
 Dari segelintir fakta di atas semakin menegaskan bahwa bangsa kita terutama para generasi muda sedang mengalami apa yang dinamakan degradasi moral. Maka sudah jelaslah, Imtaq merupakan salah satu dasar atau tujuan utama yang penting dalam pendidikan nasional di Indonesia. Untuk mencapai tujuan tersebut, lembaga pendidikan sekolah-lah yang dinilai merupakan salah satu wahana yang sangat efektif untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut, dengan alasan karena melalui proses pendidikan di sekolah peserta didik akan memperoleh bukan saja aspek pengetahuan dan keterampilan, namun juga sikap yang mengarah pada ranah religi dan sosial yang telah disebutkan.
Dalam mewujudkannya, maka tidaklah cukup jika hanya guru mata pelajaran PAI yang mengemban tugas ini sendirian. Akan tetapi seluruh komponen pendidikan di sekolah juga ikut bertanggung jawab dalam upaya peningkatan imtaq. Namun sebenarnya orang tua juga ikut berperan dalam membentuk dan mempersiapkan anak mereka menjadi manusia yang bermoral, beriman dan bertaqwa, sehingga nantinya anak bukan hanya berkualitas dalam segi Intelektual Question (IQ) saja tetapi juga pada sikapnya.
Sudah bukan rahasia lagi, pendidikan yang berbasis imtaq atau pendidikan yang dibangun dengan ESQ (Emosional Spiritual Question) tentu akan menekan degradasi moral yang telah dipaparkan di atas. Jadi, antara IQ dan ESQ setidaknya harus ballance ditanamkan dalam diri siswa atau peserta didik kita.
Lantas bagaimana pengimplementasian sekolah berbasis imtaq tersebut? Perlu adanya kesadaran dari lembaga sekolah termasuk semua komponen di dalamnya bekerjasama untuk menciptakan suasana mendidik yang sarat akan nilai-nilai religius dan bermoral (dalam proses belajar mengajar). Selain mengoptimalkan Pendidikan Agama Islam, kesadaran dari pihak sekolah tersebut bisa juga diwujudkan dengan memberikan keteladanan kepada siswa didik. Misalnya saja, membiasakan siswa di sekolah untuk shalat dhuha dan shalat sunah lainnya (bagi pemeluk islam), berjabat tangan, mengucapkan salam ketika masuk kelas, berdoa sebelum memulai aktivitas (belajar), membiasakan memulai dengan tangan/ kaki kanan sebelum beraktifitas, jujur dalam mengerjakan tugas, mengadakan lomba yang bertajuk pada imtaq semisal lomba qira’ah, kultum, karya tulis bertema islami dan lain sebagainya. Pada intinya pihak sekolah berperan aktif dalam membuat program-program unggulan dalam rangka menciptakan pendidikan atau sekolah berbasiskan Imtaq.
Kelihatannya memang sepele, namun kebiasaan tersebut apabila dilakukan secara berkesinambungan dan dalam kurun waktu yang cukup lama, akan membentuk suatu pola perilaku yang baik. Menjadikan manusia yang berkarakter luhur, sopan santun yang tinggi serta tata krama yang sesuai dengan etika dan estetika tertentu.
Jika saja semua lembaga pendidikan menyadari akan urgennya “pendidikan berbasis Imtaq” maka, generasi yang dihasilkannya pun Insya Allah akan menjadi generasi yang bukan hanya memiliki intelektul akademi saja namun juga memiliki jiwa sosial yang tinggi, peduli dengan sesama, bermoral, beriman, serta bertaqwa.
Keberhasilan pendidikan berbasis imtaq tersebut adalah tugas bersama. Yakni perlu adanya kerjasama antara pihak sekolah dengan PSM (Peran Serta Masyarakat; termasuk juga orang tua) untuk mendukung tujuan tersebut. Mengadakan kerjasama antara PSM tersebut diperkuat, mengingat bahwa lingkungan sekitar/ masyarakat juga berpengaruh terhadap pembentukan sikap/ perilaku sang anak.
Akhir kata, perlu penulis tekankan di sini bahwa, jika kita ingin merubah dunia maka satu langkah awal yang harus kita lakukan adalah merubah sikap dari pada diri kita sendiri. Dalam artian bahwa, jadikanlah diri kita ini sebagai teladan bagi orang lain, mulailah kebaikan dari diri kita sekecil apapun itu.

Sumber rujukan: http://www.pendis.kemenag.go.id/pai/file/dokumen/SekolahBerwawasanImtaq.pdf

Tidak ada komentar: