Pendidikan kini sedang ramai dibicarakan adanya kurikulum baru yang telah
dilaksanakan sejak juli lalu. Tentang bagaimana pembelajaran lebih memberikan
pengalaman dan mencari pengetahuan sendiri bagi siswa. Dalam dunia pendidikan
selain kurikulum yang berlaku, peran seorang guru membawa dampak besar bagi
suksesnya pencapaian tujuan pendidikan. Kualitas dari diri seorang guru yang
kini menjadi sorotan publik. Keprofesionalan dan kompetensi dari guru memang
perlu diperhatikan dan diujikan. Yakni seberapa besar guru memiliki kompetensi
sehingga mampu mengembangkan dan
menyajikan materi pelajaran yang aktual dengan menggunakan berbagai pendekatan,
metode, dan teknologi pembelajaran terkini. Dari
sedikit uraian tersebut, maka sudah menjadi barang tentu bagi seorang guru untuk memikirkan bagaimana agar
siswa-siswanya mampu menguasai dan menerima materi pelajaran secara utuh dan menyeluruh, terutama mata pelajaran IPA.
Pada hakikatnya IPA
merupakan sekumpulan ilmu pengetahuan tentang objek dan fenomena alam yang dihasilkan dari pemikiran para ilmuwan dengan bereksperimen menggunakan metode-metode ilmiah . Jika kita melihat dari hakikat IPA itu sendiri bukankah mata pelajaran tersebut sangat penting dan menarik untuk dipelajari? Mengingat
IPA sangat bermanfaat dan nyata berkaitan erat bagi kehidupan kita sehari-hari. Disamping itu
IPA mampu mengubah sikap manusia
disertai membangun pola berpikir seseorang terhadap Alam semesta. Misal, gambarannya sebagai berikut: pertama,
orang percaya bahwa pelangi adalah
selendang bidadari, sedangkan orang IPA mengerti bahwa pelangi suatu pembiasan
cahaya oleh bintik-bintik air di udara. Kedua, orang percaya bahwa gerhana bulan terjadi karena ditelan oleh raksasa sakti,
sedangkan orang IPA mengatakan gerhana bulan terjadi karena tertutup bayangan bumi.
Bukankah sudah jelas bahwa IPA
mampu menjawab persoalan-persoalan mengenai fenomena
alam? Bukankah IPA sangat menarik
untuk dipelajari?
Lantas apa
kaitannya antara pentingnya mempelajari IPA dengan kompetensi yang harus
dimiliki sebagai seorang guru? Dari awal sudah diungkapkan bahwa IPA secara
keseluruhan merupakan mata pelajaran yang penting dan menarik. Kajian IPA juga
sangat luas, terdiri dari beberapa disiplin ilmu diantaranya biologi, fisika, ekologi,
geologi, kimia. Oleh sebab kajian IPA yang sangat luas tersebut
terkadang siswa SD kurang semangat/ antusias dalam mempelajari IPA. Padahal
dengan mempelajari IPA justru akan membuka wawasan mereka terhadap hal-hal
(dalam lingkup kajian IPA) yang belum mereka ketahui secara gamblang. Maka dari
itu, dalam proses pembelajaran di sekolah untuk menyampaikan materi IPA
diperlukan seorang guru yang memiliki kompetensi yang memadai. Kompetensi diantaranya:
bagaimana seorang guru mampu merancang pembelajaran agar mata pelajaran IPA
menjadi mata pelajaran yang menarik. Memadu padankan beberapa pendekatan dan
metode agar stigma awal siswa terhadap mata pelajaran IPA adalah menyenangkan.
Untuk
mewujudkannya, guru bisa menggunakan pendekatan pembelajaran lingkungan alam
sekitar atau disebut dengan PLAS. Pendekatan tersebut memiliki kecenderungan
untuk selalu memanfaatkan fasilitas
yang tersedia di lingkungan alam sekitar dalam proses pembelajaran. Mengapa harus PLAS? Pertama, PLAS sesuai dengan
karakter IPA yang sebagian besar mempelajari tentang objek dan fenomena alam.
Kedua, PLAS lebih menitikberatkan pada keterlibatan indera dan pemikiran anak
sendiri. Jadi pembelajaran yang berlangsung tidak sebatas pada
kegiatan membaca buku, dan menghafalkan definisi saja. Ketiga, PLAS menekankan untuk mempraktekkan
keterampilan secara
langsung tentang cara bertani, berkebun,
mengukur lebar pohon dll. Dengan demikian pembelajaran IPA akan terasa lebih
bermakna dan menyenangkan karena siswa dilibatkan secara langsung.
Untuk membuat
matpel IPA semakin menarik dan untuk membuat siswa menguasai materi dengan
menyenangkan, guru bisa mengembangkan PLAS dengan memadu padankan model
Numbered Heads
Together (kepala benomor), yakni model pembelajaran secara berkelompok. Model
tersebut merupakan model pembelajaran semisal kuis. Diperlukan keterampilan
berdiskusi agar siswa mampu menguasai materi yang telah dibagi. Pertama, siswa
dibagi dalam kelompok, setiap anggota
dalam setiap kelompok mendapat nomor,
kemudian guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya.
Kedua, kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota
kelompok mampu mengerjakannya/mengetahui jawabannya. Ketiga, guru memanggil
salah satu nomor siswa dan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerja mereka.
Pada langkah pembelajaran ketiga ini, guru menguji kemampuan siswa dengan
memberikan pertanyaan seputar materi yang telah didiskusikan pada kelompoknya.
Kegiatan tersebut akan terus berlanjut sampai masing-masing siswa mendapat
gilirannya. Setelah semua dirasa mampu menguasi materi, selanjutnya guru memberikan
reward, menyimpulkan hasil pembelajaran dan melakukan refleksi.
Model
pembelajaran di atas dapat dikatakan sebagai belajar sambil bermain, karena
siswa tidak benar-benar dituntut untuk bisa menguasai materi, akan tetapi memperlihatkan
pada siswa bahwa mata pelajaran IPA sangat menyenangkan untuk dipelajari, serta
juga untuk mengetahui seberapa jauh minat siswa terhadap mata pelajaran IPA. (1. Dikutip
dari: makalah kelompok 1 tugas pengembangan pembelajaran sains SD 2. Dikutip
dari: http://rudy-unesa.blogspot.com/2010/12/hakikat-dan-fungsi-ilmu-pengetahuanalam.html)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar