Sabtu, 09 November 2013

Menjadikan IPA sebagai pelajaran yang menarik bagi anak SD: ANTARA IPA, PLAS DAN NUMBERED HEADS TOGETHER



Pendidikan kini sedang ramai dibicarakan adanya kurikulum baru yang telah dilaksanakan sejak juli lalu. Tentang bagaimana pembelajaran lebih memberikan pengalaman dan mencari pengetahuan sendiri bagi siswa. Dalam dunia pendidikan selain kurikulum yang berlaku, peran seorang guru membawa dampak besar bagi suksesnya pencapaian tujuan pendidikan. Kualitas dari diri seorang guru yang kini menjadi sorotan publik. Keprofesionalan dan kompetensi dari guru memang perlu diperhatikan dan diujikan. Yakni seberapa besar guru memiliki kompetensi sehingga mampu mengembangkan dan menyajikan materi pelajaran yang aktual dengan menggunakan berbagai pendekatan, metode, dan teknologi pembelajaran terkini. Dari sedikit uraian tersebut, maka sudah menjadi barang tentu bagi seorang guru untuk memikirkan bagaimana agar siswa-siswanya mampu menguasai dan menerima materi pelajaran secara utuh dan menyeluruh, terutama mata pelajaran IPA.
Pada hakikatnya IPA merupakan sekumpulan ilmu pengetahuan tentang objek dan fenomena alam yang dihasilkan dari pemikiran para ilmuwan dengan bereksperimen menggunakan metode-metode ilmiah . Jika kita melihat dari hakikat IPA itu sendiri bukankah mata pelajaran tersebut sangat penting dan menarik untuk dipelajari? Mengingat IPA sangat bermanfaat dan nyata berkaitan erat bagi kehidupan kita sehari-hari. Disamping itu IPA mampu mengubah sikap manusia disertai membangun pola berpikir seseorang terhadap Alam semesta. Misal, gambarannya sebagai berikut: pertama, orang percaya bahwa pelangi adalah selendang bidadari, sedangkan orang IPA mengerti bahwa pelangi suatu pembiasan cahaya oleh bintik-bintik air di udara. Kedua, orang percaya bahwa gerhana bulan terjadi karena ditelan oleh raksasa sakti, sedangkan orang IPA mengatakan gerhana bulan terjadi karena tertutup bayangan bumi. Bukankah sudah jelas bahwa IPA mampu menjawab persoalan-persoalan mengenai fenomena alam? Bukankah IPA sangat menarik untuk dipelajari?
Lantas apa kaitannya antara pentingnya mempelajari IPA dengan kompetensi yang harus dimiliki sebagai seorang guru? Dari awal sudah diungkapkan bahwa IPA secara keseluruhan merupakan mata pelajaran yang penting dan menarik. Kajian IPA juga sangat luas, terdiri dari beberapa disiplin ilmu diantaranya biologi, fisika, ekologi, geologi, kimia. Oleh sebab kajian IPA yang sangat luas tersebut terkadang siswa SD kurang semangat/ antusias dalam mempelajari IPA. Padahal dengan mempelajari IPA justru akan membuka wawasan mereka terhadap hal-hal (dalam lingkup kajian IPA) yang belum mereka ketahui secara gamblang. Maka dari itu, dalam proses pembelajaran di sekolah untuk menyampaikan materi IPA diperlukan seorang guru yang memiliki kompetensi yang memadai. Kompetensi diantaranya: bagaimana seorang guru mampu merancang pembelajaran agar mata pelajaran IPA menjadi mata pelajaran yang menarik. Memadu padankan beberapa pendekatan dan metode agar stigma awal siswa terhadap mata pelajaran IPA adalah menyenangkan.
Untuk mewujudkannya, guru bisa menggunakan pendekatan pembelajaran lingkungan alam sekitar atau disebut dengan PLAS. Pendekatan tersebut memiliki kecenderungan untuk selalu memanfaatkan fasilitas yang tersedia di lingkungan alam sekitar dalam proses pembelajaran. Mengapa harus PLAS? Pertama, PLAS sesuai dengan karakter IPA yang sebagian besar mempelajari tentang objek dan fenomena alam. Kedua, PLAS lebih menitikberatkan pada keterlibatan indera dan pemikiran anak sendiri. Jadi pembelajaran yang berlangsung tidak sebatas pada kegiatan membaca buku, dan menghafalkan definisi saja. Ketiga, PLAS menekankan untuk mempraktekkan keterampilan secara langsung tentang cara bertani, berkebun, mengukur lebar pohon dll. Dengan demikian pembelajaran IPA akan terasa lebih bermakna dan menyenangkan karena siswa dilibatkan secara langsung.
Untuk membuat matpel IPA semakin menarik dan untuk membuat siswa menguasai materi dengan menyenangkan, guru bisa mengembangkan PLAS dengan memadu padankan model Numbered Heads Together (kepala benomor), yakni model pembelajaran secara berkelompok. Model tersebut merupakan model pembelajaran semisal kuis. Diperlukan keterampilan berdiskusi agar siswa mampu menguasai materi yang telah dibagi. Pertama, siswa dibagi dalam kelompok, setiap anggota dalam setiap kelompok mendapat nomor, kemudian guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya. Kedua, kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota kelompok mampu mengerjakannya/mengetahui jawabannya. Ketiga, guru memanggil salah satu nomor siswa dan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerja mereka. Pada langkah pembelajaran ketiga ini, guru menguji kemampuan siswa dengan memberikan pertanyaan seputar materi yang telah didiskusikan pada kelompoknya. Kegiatan tersebut akan terus berlanjut sampai masing-masing siswa mendapat gilirannya. Setelah semua dirasa mampu menguasi materi, selanjutnya guru memberikan reward, menyimpulkan hasil pembelajaran dan melakukan refleksi.
Model pembelajaran di atas dapat dikatakan sebagai belajar sambil bermain, karena siswa tidak benar-benar dituntut untuk bisa menguasai materi, akan tetapi memperlihatkan pada siswa bahwa mata pelajaran IPA sangat menyenangkan untuk dipelajari, serta juga untuk mengetahui seberapa jauh minat siswa terhadap mata pelajaran IPA. (1. Dikutip dari: makalah kelompok 1 tugas pengembangan pembelajaran sains SD 2. Dikutip dari: http://rudy-unesa.blogspot.com/2010/12/hakikat-dan-fungsi-ilmu-pengetahuanalam.html)

Tidak ada komentar: