Monday,
11 Februari 2013
“ pergulatan
dalam diri ”
Acapkali
bayangan-bayangan menakutkan itu terlebih dulu hadir mendahului sebelum
kenyataan(nya) benar-benar terjadi...dan selama ini, nyatanya aku lebih banyak
hidup dalam bayang-bayangku sendiri tanpa sadar aku belum hidup sepenuhnya
dengan kenyataan yang sebelumnya pernah ada dalam bayanganku... (hening, terhenti sejenak).
“entah akan kubawa kemana pikiranku ini,
kenapa saat kuniatkan ingin menulis apa yang menjadi topik pembicaraan dalam
alam pikiran ini malah berhenti di tengah jalan. Benarkah hanya sekedar
‘berhenti’?” aku protes.
“bergegaslah shalat fer, mungkin
kebuntuan atas pikiranmu saat ini oleh karena kamu belum sholat? (benarkah
demikian?)” aku yang lain berusaha mengingatkan.
“baiklah.” (bergegas sholat)
***
(Dan benar) memasuki rakaat pertama saat
setelah takbiratul ‘ikram, beruntun kalimat demi kalimat bertebaran dalam pikiran,
berantakan! Minta dirapikan! Tapi tengah keadaan sholat apa mungkin? Lalu
afdolkah sholat saya tadi? Dalam keadaan itu seharusnya saya khusyu’
memfokuskan segala pikiran hati dan lisan untuk sholat, mentadzaburi ayat demi
ayat yang dibaca, merasakan kehadiran Illah dalam diri bukan malah memikirkan
kalimat tulisan yang belum sempat tertuliskan!! (astaghfirullahal’adziim)
“Sudahkah saya gila saat ini?” Aku
mencoba bertanya...entah kepada hatikah? Kepada pikirankah? Atau kepada
jiwakah?
“Gila karena apa fer?” ‘aku yang lain’
menjawab
“bayangkan saja aku berbicara sendiri,
bertanya tak jelas kepada siapa —kepada hatikah? Kepada pikirankah? Atau kepada
jiwakah?— Tak pernah tau!
“Berbicara sendiri?”
“iya.” jawabku mantap.
“aku tak mengerti mengapa kau berkata demikian,
lalu kau anggap apa aku ini? Saat kau butuh saran aku selalu aktif memberikan
saran, saat kau sendiri aku menghiburmu, saat kau mulai bingung dan ingin
bertanya aku selalu menjawabnya sebisa mungkin. Lalu ada masalah?” ‘aku yang
lain’ tak terima
“karena kau tak-lah nyata, entah kau ini
termasuk dari bagian mana dalam diriku —bagian dari dalam pikirankah, dari
hatikah ataupun dari jiwakah?— Kau tak akan terlihat oleh siapapun bahkan
diriku sendiri kecuali Dia, Dzat Yang Maha Melihat segala sesuatu yang
tersembunyi maupun yang gaib. Sedangkan aku hanya bisa ‘merasakan’ adanya
dirimu, tak lebih!”
‘Aku yang lain’ terdiam. Benar-benar terdiam tak
tahu harus berkata apa.
***
“kau paham sekarang?” aku bertanya
“sedikit.” jawab ‘aku yang lain’ dengan
raut kebingungan (bagamana bisa aku mendeskripsikannya dengan menyebutkan ‘raut
kebingungan’? melihatnya saja mustahil apalagi sampai mendeskripsikannya dengan
kata ‘raut kebingungan’. Aneh).
“Ah, sudah cukup. Cukup. Mengapa aku
diheboh-pusingkan dengan ‘aku yang lain’? siapa dia itu? Dimana dia sekarang?”
(hei... mengapa aku susah-susah mencarinya dalam tulisan ini? Toh aku bisa
menghadirkannya dengan sekehendak hatiku. Benarkan begitu, dia kan bagian dari
dalam diriku).
“benar aku adalah rekayasamu, oh bukan,
lebih tepatnya aku adalah bagian dari dalam dirimu yang kamu sendiri tak tahu
termasuk dari bagian manakah aku ini?” ‘aku yang lain’ berusaha menjawab
sekenanya.
“okelah aku terima omonganmu kali ini
sependapat denganku. Emmm...harus kupanggil siapa kamu agar aku tak bingung
membedakan mana yang aku dan mana yang kamu (‘aku yang lain’)? ”
“terserah kamu saja.”
“bagaimana kalau...’Suci’?”
“terserah fer.” Jawabnya biasa.
“pendirianpun kamu tak punya?”
“okelah kedengarannya itu bagus, aku
suka nama itu. Baik aku pakai nama itu sekarang.”
“deal?”
“deal!” suci pun menjawab dengan penuh
senyum mengembang (sekarang ‘aku yang lain’memiliki nama yakni ‘Suci’).
***
“Bolehkah aku bertanya?”
“silahkan. Bertanyalah sesukamu sepuasmu
sekehendakmu aku akan menjawabnya sebisaku. Tapi bukan berarti semua jawabanku
itu benar, karena kau pun juga tahu aku ini tak jelas asal usulnya dari dirimu,
—entah dari bagian hatimukah atau dari pikiranmukah ataupun dari jiwamukah—
yang kemungkinan besar juga bisa salah.” dengan lembut Suci menjawab.
“aku cukup mengerti dan sangat paham
dengan apa yang kamu maksudkan. Baiklah, apa yang dimksud dengan ‘Jika
kamu berada di pagi hari, janganlah menunggu sore tiba’?” aku bertanya dengan
harapan jawaban yang akan Suci berikan.
“Bismillahirrahmanirrahim
(menghela nafas —benarkah demikian?)... pertanyaanmu itu berarti ‘Hari inilah
yang akan kamu jalani, bukan hari kemarin yang telah berlalu dengan segala
kebaikan dan keburukannya, dan juga bukan esok hari yang belum tentu datang. Hari
yang saat ini mataharinya menyinari mu, dan siangnya menyapa mu inilah hari mu’.”
”aku
masih belum mengerti?!” sambil membenarkan posisi dudukku yang dari tadi tanpa
aku sadari bnar-benar dalam posisi yang tidak nyaman.
Suci
meneruskan penjelasannya tanpa peduli aku yang sedang sibuk dengan posisiku.
“Pada
hari ini, sebaiknya kamu mencurahkan seluruh perhatian, kepedulian dan kerja
keras. Dan pada hari inilah, kamu harus bertekad mempersembahkan kualitas
shalat yang paling khusyu', bacaan al-Qur'an yang sarat tadabbur, dzikir dengan
sepenuh hati, keseimbangan dalam segala hal, keindahan dalam akhlak, kerelaan
dengan semua yang Allah berikan, perhatian terhadap keadaan sekitar, perhatian
terhadap kesehatan jiwa dan raga, serta perbuatan baik terhadap sesama.” Panjang lebar Suci menjelaskan berharap aku
memahami setiap kalimat demi kalimat yang disampaikan (aku mulai paham tapi tak
jua kutemui kepuasan atas prtanyaan yang kuajukan sebelumnya).
“Umur mu,
mungkin tinggal hari ini. Maka, anggaplah masa hidup mu hanya hari ini, atau
seakan-akan kamu dilahirkan hari ini dan akan mati hari ini juga. Dengan
begitu, hidup mu tak akan tercabik-cabik diantara gumpalan keresahan, kesedihan
dan duka masa lalu dengan bayangan masa depan yang penuh ketidakpastian dan
acapkali menakutkan”. Suci meneruskan pembicaraannya dengan telaten dan penuh
pengertian (aku sendiri bingung dari mana ia temukan jawaban itu, padahal dia
sendiri bagian dari dalam diriku).
“aku paham dan
mengerti sekarang. Kalau bukan karena aku merasa ngatuk saat ini, aku akan
terus melanjutkan pembicaraan ini, tapi aku sangat mengantuk. Dan sekarang aku
ingin tidur, sudah jam 12 malam. Kita lanjut besok!”
“akan
kupersiapkan jawaban atas pertanyaanmu selanjutnya, aku juga akan ikut dirimu
menyiapkan tubuhmu ini agar segar kembali di esok hari. Semoga kau bisa menemui
subuh lebih awal.” Suci nampaknya tak keberatan dengan keterusteranganku.
“semoga”. Aku
menjawab dengan penuh harapan bisa menemui subuh esok lebih awal, minimal aku
masih hidup dan melaksanakan sholat subuh.
“jangan bicara
saja, cepat matikan laptopmu sekarang juga atau kau akan meuruti emosimu untuk
terus menuliskan apa yang ada dalam alam pikiranmu sekarang ini!!”
***
“Alhamdulillah...
aku masih bisa menemui subuh hari ini meski terlambat. Itu pun aku terbangun
lantaran merasa ingin buang air kecil, kalau tidak, pasti aku kesiangan untuk
sholat subuh.”
“setiap hari
tingkatkanlah kualitas hidupmu itu. Tidur lebih awal, shoat tepat waktu, sholat
sunah, berakhlak lebih baik, taat dan patuh kepada oraang tua dan masih banyak
lagi yang akan menjadi tanggunganmu dalam melaksanakan kehidupan ini secara
optimal.” Suci mengingatkan.
“iya...iya.”
jawabku nurut. “oya kita lanjutkan pembicaraan kita tadi malam, aku belum
selesai bertanya.”
“apalagi?
Bentar, bentar, kau bertanya terus sementara aku tak tahu apakah penjelasanku
panjang lebar semalam kau benar-benar paham? Jangan-jangan kau...” (tak sempat
selesai bicara aku memotongnya).
“aku mengerti
kok dan sangat gamblang, ‘Hariku adalah hari ini. Yakni, bila hari ini aku
dapat memakan nasi hangat yang harum baunya, maka apakah nasi basi yang telah aku
makan kemarin atau nasi hangat esok hari (yang belum tentu ada) itu akan
merugikan aku? Jika aku dapat minum air jernih dan segar hari ini, maka mengapa
aku harus bersedih atas air asin yang aku minum kemarin, atau mengkhawatirkan
air hambar dan panas esok hari yang belum tentu terjadi’? bukankah begitu?”
potongku enteng.
“that’s right!”
Lalu
kuteruskan paragraf yang sempat terhenti sebelumnya.
...oh
masa lalu yang telah berlalu dan selesai, tenggelamlah seperti mataharimu. Aku
tak akan pernah menangisi kepergianmu, dan kamu tidak akan pernah melihatku
termenung sedetik pun untuk mengingatmu. Kamu telah meninggalkan kami semua,
pergi dan tak pernah kembali lagi.
Oh
masa depan, engkau masih dalam kegaiban. Maka, aku tidak akan pernah bermain
dengan khayalan dan menjual diri hanya untuk sebuah dugaan. Aku pun tak bakal
memburu sesuatu yang belum tentu ada, karena esok hari mungkin tak ada sesuatu.
Esok hari adalah sesuatu yang belum diciptakan dan tidak ada satu pun darinya
yang dapat disebutkan.
***
“sekarang
gantian aku bertanya.” Ungkap Suci.
“apa?”
tanyaku
“kenapa
kau memberiku nama/ panggilan Suci? Dari awal kau belum menyatakan alasanmu atas
namaku yang kau buat itu?!” tanya Suci penasaran.
“aku
belum tahu alasan yang tepat mengapa aku memilih nama itu untukmu.”
“loh
kok? (Suci bingung –lagi-lagi aku mensifati ‘Suci’ dengan karakter ‘bingung’).
Bukankah saat kau memikirkan nama itu kamu sudah memiliki alasan?”
“benar.
Alasan itu sudah ada tapi aku belum bisa mengungkapkannya dalam kata-kata,
dalam bentuk tulisan yang runtut dan sistematis saat ini. Tunggulah saat yang
tepat aku akan memikirkannya.”
“???!!!”
—The
End—
IG: #fdp19