Minggu, 29 Maret 2015



“ Empat senyuman ”

Empat senyuman terindah dalam diri seorang muslim:
1.  Senyum sabar saat menghadapi cobaan
2.  Senyum ikhlas dalam membantu sesama
3.  Senyum jujur sapa saudara
4.  Senyum tulus cinta karena Allah semata

Ssanggup?
yyakin sanggup?
 bismillah...
 







Sabtu, 28 Maret 2015



Monday, 11 Februari 2013
“ pergulatan dalam diri ”
Acapkali bayangan-bayangan menakutkan itu terlebih dulu hadir mendahului sebelum kenyataan(nya) benar-benar terjadi...dan selama ini, nyatanya aku lebih banyak hidup dalam bayang-bayangku sendiri tanpa sadar aku belum hidup sepenuhnya dengan kenyataan yang sebelumnya pernah ada dalam bayanganku... (hening, terhenti sejenak).

“entah akan kubawa kemana pikiranku ini, kenapa saat kuniatkan ingin menulis apa yang menjadi topik pembicaraan dalam alam pikiran ini malah berhenti di tengah jalan. Benarkah hanya sekedar ‘berhenti’?” aku protes.

“bergegaslah shalat fer, mungkin kebuntuan atas pikiranmu saat ini oleh karena kamu belum sholat? (benarkah demikian?)” aku yang lain berusaha mengingatkan.

“baiklah.” (bergegas sholat)
***

(Dan benar) memasuki rakaat pertama saat setelah takbiratul ‘ikram, beruntun kalimat demi kalimat bertebaran dalam pikiran, berantakan! Minta dirapikan! Tapi tengah keadaan sholat apa mungkin? Lalu afdolkah sholat saya tadi? Dalam keadaan itu seharusnya saya khusyu’ memfokuskan segala pikiran hati dan lisan untuk sholat, mentadzaburi ayat demi ayat yang dibaca, merasakan kehadiran Illah dalam diri bukan malah memikirkan kalimat tulisan yang belum sempat tertuliskan!! (astaghfirullahal’adziim)
“Sudahkah saya gila saat ini?” Aku mencoba bertanya...entah kepada hatikah? Kepada pikirankah? Atau kepada jiwakah?

“Gila karena apa fer?” ‘aku yang lain’ menjawab

“bayangkan saja aku berbicara sendiri, bertanya tak jelas kepada siapa —kepada hatikah? Kepada pikirankah? Atau kepada jiwakah?— Tak pernah tau!

“Berbicara sendiri?”

“iya.” jawabku mantap.

“aku tak mengerti mengapa kau berkata demikian, lalu kau anggap apa aku ini? Saat kau butuh saran aku selalu aktif memberikan saran, saat kau sendiri aku menghiburmu, saat kau mulai bingung dan ingin bertanya aku selalu menjawabnya sebisa mungkin. Lalu ada masalah?” ‘aku yang lain’ tak terima

“karena kau tak-lah nyata, entah kau ini termasuk dari bagian mana dalam diriku —bagian dari dalam pikirankah, dari hatikah ataupun dari jiwakah?— Kau tak akan terlihat oleh siapapun bahkan diriku sendiri kecuali Dia, Dzat Yang Maha Melihat segala sesuatu yang tersembunyi maupun yang gaib. Sedangkan aku hanya bisa ‘merasakan’ adanya dirimu, tak lebih!”

‘Aku yang lain’ terdiam. Benar-benar terdiam tak tahu harus berkata apa.
***

“kau paham sekarang?” aku bertanya

“sedikit.” jawab ‘aku yang lain’ dengan raut kebingungan (bagamana bisa aku mendeskripsikannya dengan menyebutkan ‘raut kebingungan’? melihatnya saja mustahil apalagi sampai mendeskripsikannya dengan kata ‘raut kebingungan’. Aneh).

“Ah, sudah cukup. Cukup. Mengapa aku diheboh-pusingkan dengan ‘aku yang lain’? siapa dia itu? Dimana dia sekarang?” (hei... mengapa aku susah-susah mencarinya dalam tulisan ini? Toh aku bisa menghadirkannya dengan sekehendak hatiku. Benarkan begitu, dia kan bagian dari dalam diriku).

“benar aku adalah rekayasamu, oh bukan, lebih tepatnya aku adalah bagian dari dalam dirimu yang kamu sendiri tak tahu termasuk dari bagian manakah aku ini?” ‘aku yang lain’ berusaha menjawab sekenanya.

“okelah aku terima omonganmu kali ini sependapat denganku. Emmm...harus kupanggil siapa kamu agar aku tak bingung membedakan mana yang aku dan mana yang kamu (‘aku yang lain’)? ”

“terserah kamu saja.”

“bagaimana kalau...’Suci’?”

“terserah fer.” Jawabnya biasa.

“pendirianpun kamu tak punya?”

“okelah kedengarannya itu bagus, aku suka nama itu. Baik aku pakai nama itu sekarang.”

“deal?”

“deal!” suci pun menjawab dengan penuh senyum mengembang (sekarang ‘aku yang lain’memiliki nama yakni ‘Suci’).
***

“Bolehkah aku bertanya?”

“silahkan. Bertanyalah sesukamu sepuasmu sekehendakmu aku akan menjawabnya sebisaku. Tapi bukan berarti semua jawabanku itu benar, karena kau pun juga tahu aku ini tak jelas asal usulnya dari dirimu, —entah dari bagian hatimukah atau dari pikiranmukah ataupun dari jiwamukah— yang kemungkinan besar juga bisa salah.” dengan lembut Suci menjawab.

“aku cukup mengerti dan sangat paham dengan apa yang kamu maksudkan. Baiklah, apa yang dimksud dengan ‘Jika kamu berada di pagi hari, janganlah menunggu sore tiba’?” aku bertanya dengan harapan jawaban yang akan Suci berikan.

“Bismillahirrahmanirrahim (menghela nafas —benarkah demikian?)... pertanyaanmu itu berarti ‘Hari inilah yang akan kamu jalani, bukan hari kemarin yang telah berlalu dengan segala kebaikan dan keburukannya, dan juga bukan esok hari yang belum tentu datang. Hari yang saat ini mataharinya menyinari mu, dan siangnya menyapa mu inilah hari mu’.”

”aku masih belum mengerti?!” sambil membenarkan posisi dudukku yang dari tadi tanpa aku sadari bnar-benar dalam posisi yang tidak nyaman.

Suci meneruskan penjelasannya tanpa peduli aku yang sedang sibuk dengan posisiku.
“Pada hari ini, sebaiknya kamu mencurahkan seluruh perhatian, kepedulian dan kerja keras. Dan pada hari inilah, kamu harus bertekad mempersembahkan kualitas shalat yang paling khusyu', bacaan al-Qur'an yang sarat tadabbur, dzikir dengan sepenuh hati, keseimbangan dalam segala hal, keindahan dalam akhlak, kerelaan dengan semua yang Allah berikan, perhatian terhadap keadaan sekitar, perhatian terhadap kesehatan jiwa dan raga, serta perbuatan baik terhadap sesama.”  Panjang lebar Suci menjelaskan berharap aku memahami setiap kalimat demi kalimat yang disampaikan (aku mulai paham tapi tak jua kutemui kepuasan atas prtanyaan yang kuajukan sebelumnya).
“Umur mu, mungkin tinggal hari ini. Maka, anggaplah masa hidup mu hanya hari ini, atau seakan-akan kamu dilahirkan hari ini dan akan mati hari ini juga. Dengan begitu, hidup mu tak akan tercabik-cabik diantara gumpalan keresahan, kesedihan dan duka masa lalu dengan bayangan masa depan yang penuh ketidakpastian dan acapkali menakutkan”. Suci meneruskan pembicaraannya dengan telaten dan penuh pengertian (aku sendiri bingung dari mana ia temukan jawaban itu, padahal dia sendiri bagian dari dalam diriku).

“aku paham dan mengerti sekarang. Kalau bukan karena aku merasa ngatuk saat ini, aku akan terus melanjutkan pembicaraan ini, tapi aku sangat mengantuk. Dan sekarang aku ingin tidur, sudah jam 12 malam. Kita lanjut besok!”

“akan kupersiapkan jawaban atas pertanyaanmu selanjutnya, aku juga akan ikut dirimu menyiapkan tubuhmu ini agar segar kembali di esok hari. Semoga kau bisa menemui subuh lebih awal.” Suci nampaknya tak keberatan dengan keterusteranganku.

“semoga”. Aku menjawab dengan penuh harapan bisa menemui subuh esok lebih awal, minimal aku masih hidup dan melaksanakan sholat subuh.

“jangan bicara saja, cepat matikan laptopmu sekarang juga atau kau akan meuruti emosimu untuk terus menuliskan apa yang ada dalam alam pikiranmu sekarang ini!!”

***


“Alhamdulillah... aku masih bisa menemui subuh hari ini meski terlambat. Itu pun aku terbangun lantaran merasa ingin buang air kecil, kalau tidak, pasti aku kesiangan untuk sholat subuh.” 

“setiap hari tingkatkanlah kualitas hidupmu itu. Tidur lebih awal, shoat tepat waktu, sholat sunah, berakhlak lebih baik, taat dan patuh kepada oraang tua dan masih banyak lagi yang akan menjadi tanggunganmu dalam melaksanakan kehidupan ini secara optimal.” Suci mengingatkan.

“iya...iya.” jawabku nurut. “oya kita lanjutkan pembicaraan kita tadi malam, aku belum selesai bertanya.”

“apalagi? Bentar, bentar, kau bertanya terus sementara aku tak tahu apakah penjelasanku panjang lebar semalam kau benar-benar paham? Jangan-jangan kau...” (tak sempat selesai bicara aku memotongnya). 

“aku mengerti kok dan sangat gamblang, ‘Hariku adalah hari ini. Yakni, bila hari ini aku dapat memakan nasi hangat yang harum baunya, maka apakah nasi basi yang telah aku makan kemarin atau nasi hangat esok hari (yang belum tentu ada) itu akan merugikan aku? Jika aku dapat minum air jernih dan segar hari ini, maka mengapa aku harus bersedih atas air asin yang aku minum kemarin, atau mengkhawatirkan air hambar dan panas esok hari yang belum tentu terjadi’? bukankah begitu?” potongku enteng.

“that’s right!”

Lalu kuteruskan paragraf yang sempat terhenti sebelumnya.
...oh masa lalu yang telah berlalu dan selesai, tenggelamlah seperti mataharimu. Aku tak akan pernah menangisi kepergianmu, dan kamu tidak akan pernah melihatku termenung sedetik pun untuk mengingatmu. Kamu telah meninggalkan kami semua, pergi dan tak pernah kembali lagi.
Oh masa depan, engkau masih dalam kegaiban. Maka, aku tidak akan pernah bermain dengan khayalan dan menjual diri hanya untuk sebuah dugaan. Aku pun tak bakal memburu sesuatu yang belum tentu ada, karena esok hari mungkin tak ada sesuatu. Esok hari adalah sesuatu yang belum diciptakan dan tidak ada satu pun darinya yang dapat disebutkan.
***

“sekarang gantian aku bertanya.” Ungkap Suci.

“apa?” tanyaku

“kenapa kau memberiku nama/ panggilan Suci? Dari awal kau belum menyatakan alasanmu atas namaku yang kau buat itu?!” tanya Suci penasaran.

“aku belum tahu alasan yang tepat mengapa aku memilih nama itu untukmu.”

“loh kok? (Suci bingung –lagi-lagi aku mensifati ‘Suci’ dengan karakter ‘bingung’). Bukankah saat kau memikirkan nama itu kamu sudah memiliki alasan?”

“benar. Alasan itu sudah ada tapi aku belum bisa mengungkapkannya dalam kata-kata, dalam bentuk tulisan yang runtut dan sistematis saat ini. Tunggulah saat yang tepat aku akan memikirkannya.”

“???!!!”


—The End— 
IG: #fdp19








 

Sabtu, 14 Maret 2015

Kesusahan

Friday, 26 April 2013

“saya susah tapi ada yang lebih susah dari saya, saya menderita tapi ada yang lebih menderita dari saya, saya sedih tapi ada yang lebih sedih dari saya, saya sakit tapi ada yang lebih sakit dari saya, rupanya saya lebih senang dari mereka. Rupanya saya lebih bahagia dari mereka. Rupanya saya lebih gembira dari mereka. Rupanya saya lebih sehat dari mereka.
Alhamdulillah ya Allah bersyukur dengan apa adanya kita.”
(ustadz Jefry Al Bukhori, tausyiyah terakir sebelum beliau wafat 26 April 2013 pukul 02:00 dini hari)

Ada 3 hal pelajaran yang saya peroleh dari tausyiyah di atas. Pertama, dalam hidup, setiap orang pasti merasai/ menemui banyak kesusahan, kesulitan, berbagai masalah, cobaan, ujian sesuai dengan kadar kemampuan dan keimanannya. Maka, tak baik apabila kita terus mengungkit-ungkit masalah yang sedang menimpa kita. Tak baik kita merasa bahwa kita lah yang paling menderita, kitalah yang paling sengsara, kitalah yang paling punya banyak masalah sehingga orang-orang disekitar kita harus memahami diri kita, mengerti dan bersimpati atas masalah yang sedang kita alami. Oleh karena setiap orang memiliki masalahnya masing-masing yang mungkin tidak mereka ketahui.
Kedua, berusaha bersabar, ikhlas dan selalu bersyukur dalam segala hal keadaan kita. Maka, apakah pantas kita menanyakan alasan “mengapa saya selalu begini?” atau “mengapa harus saya yang tertimpa musibah?” atau “mengapa kesusahan ini sering dan hanya menimpa saya?” atau bentuk keluhan-keluhan sejenisnya sebagai ungkapan yang menunjukkan ketidakikhlasan diri atas ujian yang menimpa kita.
Ketiga, bukankah Allah SWT akan mengangkat derajat kita melalui kesusuahan yang sedang kita alami/ menimpa kita? Maka kuncinya adalah: sabar, ikhlas dan bersyukur atas apa yang telah digariskan oleh Yang Maha Kuasa terhadap kita. Setiap cobaan yang diujikan adalah bentuk dari sifat Kasih Sayang-Nya kepada hamba-hambanya. Dengan kesusahan, Allah SWT sedang mengingatkan diri kita untuk lebih mendekatkan diri kepada-Nya.