Jumat, 21 Maret 2014

Dibalik Khayalan Cerita


28 Februari 2014

Sore, langit Februari masih sama dengan langit Desember, tampak mendung, dengan rintikan hujan yang sedikit membasahi pelataran kota tercinta. Tak kurasakan apa-apa kecuali angin yang telah menggoreskan luka kecil pada dedaunan hingga geraknya saling berebut menarik sepasang mata ini untuk melihatnya.
Kesunyian sore, tak kudengar apa-apa kecuali tetesan rintik yang mulai mereda. Menetes, menempa kerikil kecil bergerumul. Keadaan benar-benar sunyi, sesunyi denting jam tangan yang detaknya terdengar semakin jelas.
Samar-samar kuikuti detik jam dinding, berjalan terarah dan teratur. Mataku terus melaju mengikuti detaknya, lama-lama detik jam semakin lambat berdetak. Kuusap mataku, detik jam berhenti. Kuusap lagi mataku, benar-benar mati. Kutinggalkan ia. Kualihkan mataku kesesuatu yang lain. Tiada kutemui yang lebih menarik, kecuali jam!
Kualihkan lagi ke jam yang sedari tadi berhenti. Entah apa yang menarik darinya. Kuperhatikan seksama, aku tercengang! Jam dinding yang tiba-tiba memiliki mata. Kuusap mataku, ia malah bertambah mulut. Kuusap lagi. Ia malah berbicara tak jelas. Apa-apaan ini! dalam batinku. Hatiku tak karu-karuan, pikiranku kacau tak tenang. Kuhela nafas sedalam-dalamnya dan kuhembuskan perlahan.
Kuabaikan ia yang masih berbicara sekenanya. Aku hanya perlu menata hatiku ulang dan menenangkan pikiran. Tapi tak bisa! aku frustasi! aku mencoba beranjak dari tempatku semula tapi semua terasa kelu, tak bisa bergerak. Jadilah aku yang diam terpaku tak tahu maunya keadaan ini terhadapku.
Sore semakin nampak, tak sadar dari kejauhan adzan telah diperdengarkan. Ashar telah tiba! Kutinggalkan sejenak. Tidak sekedar untuk menggugurkan kewajiban menunaikan shalat, akan tetapi lebih ke kebutuhan jiwa.
Baru tersadar, apa yang barusan kualami? Kulihat lagi dengan khawatir jam dinding yang letaknya jauh diatasku. Nyatanya ia tampak baik-baik saja. Seolah tak terjadi apa-apa. Anehnya, masih berdetak seperti biasa. Lantas aku berlalu dan kutinggalkan semua cerita khayalku yang aku sendiri tidak tau dari arah mana munculnya. Bye!

Kutahu waktu terus berjalan dan mustahil berbalik arah. Akan tetapi diri ini seolah berusaha terus mengingkarinya dan membuat waktu terbuang sia-sia. Acapkali diri melupakan waktu, acapkali diri mencampakkan waktu dan acapkali diri membuat waktu menjadi hal yang mubadzir. Kini setelah tersadar baru kumengerti, saya-lah yang telah dilupakan, saya-lah yang telah dicampakkan dan saya pula-lah yang mungkin pantas dikatakan sebagai insan yang mubadzir—Astaghfirullahal’adziim—
Bahaya, sungguh bahaya mempasrahkan diri dalam kekosongan waktu, membiarkan pikiran melayang-layang tak tahu arah. Mengingat kegelapan masa lalu, menyesali kesialan masa kini, hingga mencemaskan kelamnya masa depan yang belum tentu dialami. Maka tak ayal kegelisahan, kesedihan serta merta kecemasan senantiasa menggelayuti hati dan pikiran. Menyerahkan diri pada kekosongan waktu akan sama artinya dengan membunuh diri sendiri secara perlahan.
Maka mana yang lebih baik para petani, buruh dan para kuli bangunan yang senantiasa ceria mendendangkan lagu-lagu layaknya burung yang terbang bebas dengan mereka yang tidur di atas ranjang empuk lagi nyaman tetapi selalu gelisah dan menyeka air mata kesedihan?

Mulai sekarang, tanyalah pada diri sendiri: apa yang harus saya lakukan?
:) Tafakur bersama :) Semoga bermanfaat :)




Tidak ada komentar: