28 Februari 2014
Sore, langit Februari masih sama
dengan langit Desember, tampak mendung, dengan rintikan hujan yang sedikit
membasahi pelataran kota tercinta. Tak kurasakan apa-apa kecuali angin yang telah
menggoreskan luka kecil pada dedaunan hingga geraknya saling berebut menarik
sepasang mata ini untuk melihatnya.
Kesunyian sore, tak kudengar
apa-apa kecuali tetesan rintik yang mulai mereda. Menetes, menempa kerikil
kecil bergerumul. Keadaan benar-benar sunyi, sesunyi denting jam tangan yang
detaknya terdengar semakin jelas.
Samar-samar kuikuti detik jam
dinding, berjalan terarah dan teratur. Mataku terus melaju mengikuti detaknya,
lama-lama detik jam semakin lambat berdetak. Kuusap mataku, detik jam berhenti.
Kuusap lagi mataku, benar-benar mati. Kutinggalkan ia. Kualihkan mataku
kesesuatu yang lain. Tiada kutemui yang lebih menarik, kecuali jam!
Kualihkan lagi ke jam yang sedari
tadi berhenti. Entah apa yang menarik darinya. Kuperhatikan seksama, aku tercengang!
Jam dinding yang tiba-tiba memiliki mata. Kuusap mataku, ia malah bertambah
mulut. Kuusap lagi. Ia malah berbicara tak jelas. Apa-apaan ini! dalam batinku.
Hatiku tak karu-karuan, pikiranku kacau tak tenang. Kuhela nafas
sedalam-dalamnya dan kuhembuskan perlahan.
Kuabaikan ia yang masih berbicara
sekenanya. Aku hanya perlu menata hatiku ulang dan menenangkan pikiran. Tapi
tak bisa! aku frustasi! aku mencoba beranjak dari tempatku semula tapi semua
terasa kelu, tak bisa bergerak. Jadilah aku yang diam terpaku tak tahu maunya
keadaan ini terhadapku.
Sore semakin nampak, tak sadar dari
kejauhan adzan telah diperdengarkan. Ashar telah tiba! Kutinggalkan sejenak.
Tidak sekedar untuk menggugurkan kewajiban menunaikan shalat, akan tetapi lebih
ke kebutuhan jiwa.
Baru
tersadar, apa yang barusan kualami? Kulihat lagi dengan khawatir jam dinding
yang letaknya jauh diatasku. Nyatanya ia tampak baik-baik saja. Seolah tak
terjadi apa-apa. Anehnya, masih berdetak seperti biasa. Lantas aku berlalu dan
kutinggalkan semua cerita khayalku yang aku sendiri tidak tau dari arah mana
munculnya. Bye!
Kutahu waktu terus berjalan dan mustahil berbalik arah. Akan tetapi diri
ini seolah berusaha terus mengingkarinya dan membuat waktu terbuang sia-sia. Acapkali
diri melupakan waktu, acapkali diri mencampakkan waktu dan acapkali diri
membuat waktu menjadi hal yang mubadzir. Kini setelah tersadar baru kumengerti,
saya-lah yang telah dilupakan, saya-lah yang telah dicampakkan dan saya
pula-lah yang mungkin pantas dikatakan sebagai insan yang
mubadzir—Astaghfirullahal’adziim—
Bahaya, sungguh bahaya mempasrahkan diri dalam kekosongan waktu,
membiarkan pikiran melayang-layang tak tahu arah. Mengingat kegelapan masa
lalu, menyesali kesialan masa kini, hingga mencemaskan kelamnya masa depan yang
belum tentu dialami. Maka tak ayal kegelisahan, kesedihan serta merta kecemasan
senantiasa menggelayuti hati dan pikiran. Menyerahkan diri pada kekosongan
waktu akan sama artinya dengan membunuh diri sendiri secara perlahan.
Maka mana yang lebih baik para petani, buruh dan para kuli bangunan yang
senantiasa ceria mendendangkan lagu-lagu layaknya burung yang terbang bebas
dengan mereka yang tidur di atas ranjang empuk lagi nyaman tetapi selalu
gelisah dan menyeka air mata kesedihan?
Mulai sekarang,
tanyalah pada diri sendiri: apa yang harus saya lakukan?
:) Tafakur
bersama :) Semoga
bermanfaat :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar