Selasa, 20 Agustus 2013

Uji coba: Pisang goreng cokelat

Saturday, 13 April 2013

Hai sob, ketemu lagi nih sama ane. Sudah lama yah nggak ketemu. Terakhir ane nulis sekitar maret awal ya? Nah ini sudah bulan April. Hampir pertengahan lagi, nggak nyangka yah.
April ceria!!! Kenapa ceria? Ya terserah ane dong mau bilang april ceria kek april bahagia kek atau april bencana...ups salah, yang terakhir enggak! Bukan apa-apa sih Cuma kalau di bulan april itu karena bulan kelahiran ane. Ane lahir di bulan itu tepatnya tanggal 19 tahun ’93 senin pon jam setengah 8 malam, katanya bokap-nyokap (wiiiih padahal manggilnya nyak-babe eh bukan, bapak-ibuk!). Tapi ini bukan tentang kelahiran ane kok yang mau ane tulis hari ini.
Ya. Ini tentang pisang ane. Jelasnya, pisang goreng (yeee...prok-prok-prok-prok-prok...terimakasih-terimakasih...biasa aja kali). Berawal dari rasa ingin tahu ane and rasa penasaran ane untuk buat Pisang Goreng Cokelat. Ide ini di-ilhami oleh sebuah resto di bilangan madiun pusat yang menyediakan deesert ‘Pisang Goreng Cokelat’. Sebenernya sih bukan itu nama menunya, berhubung namanya ribet bin heboh dan berhubung ane juga lupa sama nama makanannya, yah ane sebut aja Pisang Goreng Cokelat.
1 porsi piring besar harganya tau nggak berapa? S e m b i l a n b e l a s r i b u r u p i a h! Gilaaa. Mahal bangeeet. Ane ngomong piring besar bukan berarti isi porsinya juga besar loh ya. Tapi kebalikannya. Dikit banget kalau menurut porsi ane. Mana pisangnya nggak kelihatan lagi alias kebanyakan tepung. Mungkin kalau dihitung per batang pisangnya Cuma 2 buah ukuran sedang kali ya. Yah namanya juga bisnis, mana ada sih yang mau rugi. Tapi itu semua cukup terbayarkan kok mana kala rasanya yang lezzzaat uwennnaak mantap pol lah pokoknya. Pisangnya manis, lembut, ada krimnya dengan cokelatnya yang melimpah ditambah lagi garnis ceri diatasnya membuat selera makan bertambah 5 kali lipat. Waw, amazing! Maklum baru pertama kali nyoba.
Nah mulai dari ane makan suapan pertama, itu lah saat dimana ide ane muncul ke permukaan: “aha! (dunia sekitar ane jadi lebih terang soalnya muncul lampu bohlam dekat kepala ane) kenapa nggak ane bikin sendiri saja”. Sejak saat itulah hari berganti hari minggu ke minggu sampai masuk ke bulan april awal ide tersebut tak kunjung terealisasikan (lampu bohlam yang tadinya nyala terang dekat kepala ane kini semakin redup, redup dan ‘cterr’ pecah). Tau kenapa? Soalnya banyak job yang numpuk. Maklum ane kan orang sibuk (Huuwwelk...sorrrr, ember mana ember).
Akan tetapi, hari ini, tepat hari ini 13 april 2013 pukul 08.35 WIB ane buat Pisang Goreng Cokelat. Ane mundurin sedikit 20 menit sebelumnya ane beli bahan-bahannya: 1 bungkus messes cokelat, 2 bungkus blue band sachet (per bungkus rp 5.00), fanili 5 bungkus daaan...sudah itu doang kok. Kalau pisang sama terigunya mah sudah terpampang nyata di rumah.
Nah sekarang saatnya kita tempur. Serbuuuuu.... eits maksudnya mari kita cerita ke prosesnya. Pertama, ane kukus 3 buah pisang biar nantinya pas digoreng nggak cepet gosong, katanya sih. Kedua, buat adonan: tepung terigu secukupnya, garam-gula secukupnya, fanili, tambah air secukupnya terus aduk deh hingga benar-benar menjadi adonan, jangan lupa cicipi terlebih dahulu. Ketiga, kupas pisang, potong tipis-tipia atau sesuai selera kemudian masukkan ke adonan tadi atau bahasa jawanya ‘laru’. Keempat, panaskan minyak goreng. Setelah panas, goreng pisang yang sudah dilumuri tadi dengan api kecil. Kelima, setelah pisang berwarna cokelat keemasan, angkat lalu tiriskan lalu taruh di piring cantik. Dan yeee.....PRODUK BERHASIL (prok-prok-prok-prok-prok). Pisang gorengnya matang dengan sempurna +enak.
Setelah dirasa semua pisang sudah digoreng, saatnya membuat saus cokelat. Pertama cairkan blueband secukupnya dengan api kecil. Kedua, setelah meleleh campurkan messes kedalamnya sampai meleleh. Tambah gula bila kurang manis, lihat ane juga boleh kalau pengen manisnya nambah (cihuy). Jika sudah diamkan satu menit untuk kemudian siramkan ke pisang goreng.
Ane coba siramkan dan hasilnya......hhuuuuuu.....PRODUK GAGAL. Hiks, hiks cokelatnya nggak kayak di Resto saat itu. Yang ini cokelatnya kasar, nggak terlalu mencair warnanya kurang pekat pokoknya GAGAL deh. Kalau soal rasa jangan ditanya lagi, ‘ane bilang gagal ya gagal’. Ane makan saja agak enek, bukan masalah rasa cokelatnya tapi gara-gara tangan ane tuh yang buat yang ngebikin rasa cokelatnya jadi kayak gitu. Ini semua karena ketidaktahuan ane tentang resepnya. Ya ane sih Cuma kira-kira praduga doang. Seharusnya kan cokelatnya nggak messes kayak gitu. Tapi cokelat yang benar-benar cokelat khusus buat saus. Namanya juga uji coba pasti ya ada gagalnya lah, masih inget kan kisahnya mendiang mbah T. Alfa Edison sang penemu lampu bohlam yang berkali-kali gagal sampai akhirnya berhasil? Ya gak papalah, toh masih gagal sekali (menghibur diri).
Padahal nih ya, bayangan ane tadinya bakalan seneng jingkrak-jingkrak bisa bikin Pisang Goreng Cokelat dengan tangan ane sendiri, rasanya lezzzaat uwennnaak mantap pol lah pokoknya. Tapi nyatanya? Ya sudah lah mau bagaimana lagi pisang dah terlanjur digoreng cokelat dah terlanjur meleleh. Dinikmatin saja lah. Toh kalau gagal bisa coba lagi, bener nggak tuh kasih jempol dong! lagian pisang-pisang buatan sendiri masa nggak mau sih. Rugi budget dong. untung saja yang pisang gorengnya enak.
Nih posisi ane lagi makan pisang yang ane ceritain tadi sambil ngetik. Lumayan buat camilan. Ente mau? Yah tapi sudah habis. Telat sih. Umm ngetik apa lagi ya? Topiknya sudah habis nih sama kayak pisangnya. Kalau gitu ane pamit undur diri dulu ya. Tenaaang masih ada episode yang lain-lain lagi kok dengan cerita yang tak kalah seru tak kalah heboh dan tak kalah tanding, hloh! Lain waktu kita akan bertemu lagi, Insya Allah. Bye...^^
NB: Sebenernya acara uji coba Pisang Goreng Cokelat yang ane lakukan tadi kalau dipikir-pikir dan diurut dari kronologi awalnya yang meng-ilhami itu adalah teman ane yang lagi pesen menu ‘Pisang Goreng Cokelat’. Intinya, ane Cuma numpang nyicip alias dikasih doang, enggak beli sendiri. Makan juga sedikit. Untung teman ane berbaik hati mau memberi. Coba saja kalau enggak dikasih masa ane minta-minta sambil ngesot? Pengemis dong! dan coba aja kalau benar-benar nggak dikasih kemudian misalkan ane juga nggak minta, pasti nggak akan ada cerita ane buat Pisang Goreng Cokelat nggak akan ada juga tulisan tentang uji coba ‘pisang goreng cokelat’ ini. Nggak mungkin ada juga foto-foto dibawah ini.



ups! ada kesalahan.

Minggu, 18 Agustus 2013

Ane seorang Kecopers

Monday, 3 March 2013

Hitam semu coklat, dengan bagian abdomen loreng-loreng coklat berselang-seling antara sisi gelap dan terang. Berkaki enam dengan sedikit rambut kecil kaku tegak pada ujung-ujungnya. Dilengkapi dua antena di kepala sebagai reseptor dan dua ekor di belakang menyerupai kaki, lebih pendek. Bersayap. Kalau bersayap, sudah barang tentu tuh mahkluk bisa terbang. Merupakan insekta dari ordo Blattodea. Lebih kurang terdiri dari 3.500 spesies dalam 6 familia dan tersebar diseluruh belahan bumi kecuali di kutub (ngintip dari terasnya mbah google).
Daur hidupnya bermetamorfosis tidak sempurna: telur – nimfa – kecoak dewasa – telur lagi. Mungkin karena alasan itu kali ya yang menyebabkan spesiesnya berkembang biak sangat pesat selain faktor habitatnya. Apalagi pas lagi musim hujan kaya gini.
Ia tumbuh, berkembang, ber-biak, bermain, bekerja dan menghabiskan sisa hidupnya di tempat yang lembab, kumuh dan ieuuuh gila’. Namun sesekali bahkan sering, sebagian dari mereka dengan PD-nya berkeliaran menampakkan diri di perumahan. Mulai dari perumahan sejenis rumah ane sampai perumahan elite parlente pun dijabanin. Parahnya di rumah sakit pun ane pernah berjumpa dengan dia. Mana dia lewat depan ane, pula. Ih sombong banget nggak mau nyapa.
Kalau dilihat-lihat dari habitatnya yang kumuh bin jijay itu, bukankah kloset/ kamar mandi merupakan markas paling tepat tuh buat dia? Tak terkecuali noh kamar mandi ane. Nah itu dia pokok konflik mengapa ane nulis tentang ‘ane seorang kecopers’.
Istilah kata ‘kecopers’ sendiri merupakan singkatan kata karangan ane. Terdiri dari dua kata: ‘keco’ dan ‘pers’. ‘Keco’ diambil dari kata spesies itu sendiri: kecoak, sedangkan ‘pers’ ane anggap itu sebagai sebutan dari ‘fans’ fanatik si kecoak. Jika pada umumnya seorang ‘fans’ itu selalu menyanjung, mengelu-elukan dan menyukai dengan sangat apa yang di-fans-inya, maka arti ‘fans’ disini bermakna sebaliknya. Ingat, S.E.B.A.L.I.K.N.Y.A! Ditambah lagi istilah ‘fanatik’ yang berarti berlebihan (emosional berlebihan/ sangat berat) dalam bersikap terhadap orang yang di-fans-inya hingga tak memperdulikan keadaan orang tersebut. Misal ia cakar-cakar pun tak peduli. Tapi Kalau menurut ane fans jenis ini tuh super egois dan membahayakan (bararti ane gitu dong?).
Nah loh bingung nggak ente ane ajak muter-muter, naik-turun, bolak-balik demi ente, supaya paham sama tulisan ane. kalau emang kurang jelas and nggak paham ya ngomong dong. Jangan bikin ane ambigu terhadap ente, bahwasanya ente nggak paham itu lantaran ane kurang jelas maparin tuh tulisan atau emang ente yang agak-agak telmi (nggak bermaksud loh ya ^^v).
Sebentar nih, sebelum kita melangkah lebih lanjut. Yang lagi makan, yang gampang jijik-an, ane anjurin untuk tidak membaca tulisan ane sebab ane akan mengulas tuntas kisah si kecoak secara tajam setajam lidah ente. Tapi kalau nggak ada keluhan/ masalah sama tulisan ane ya mari kita lanjoot.
Kembali ke pokok permasalahan. Nah itu dia sebenarnya tadi apa sih pokok permasalahannya? Bingung deh! Kelamaan muter-muter sih jadi lupa pokok permasalahnnya. Oh iya, masalahnya ane jijay banget sama tuh kecoak. makanya ane katakan bahwasanya ane adalah seorang ‘kecopers’/ anti kecoak banget. Non sense and non toleran deh pokoknya. Hiii bayangin struktur tubuhnya saja dah mengkirik duluan.
Parahnya, bisa terbang! Dengan seenaknya hinggap kesana-kemari. Masya Allah, tuh mahkluk hidup kok berhasil banget bikin tidur, mandi and BAB—maaf—ane nggak nyaman. Bagaimana nggak nyaman coba, pas ane tidur saja si kecoak malah jalan-jalan di kaki ane. Spontan ane shock. Jadi kebangun deh. Tapi yang ini masih bersyukur karena terbangun di seperempat malam, ane anggap Allah SWT memang sengaja bangunin ane, meski lewat kecoak. Terus pas mandi, setiap kali mau mandi ane harus tengok kanan-kiri dulu mastiin ada seonggok kecoak apa enggak. Ane juga harus buka-tutup mata pas lagi cimuk (cuci muka), bukan karena perih kena facial foamnya namun lantaran was-was andai saja kecoaknya dekat-dekat. Ada lagi nih pas lagi boker (BAB maksudnya—maaf—) ane harus siaga tengok-tengok belakang sebagai langkah awal untuk tindakan antisipasi selanjutnya terhadap coak. Kan juga nggak enak pas perut lagi sakit ehh si kecoak malah nongol. Tuh nyebelin banget kan! Masa ente enggak sih. Pokoknya ane jijik banget tanda seru.
Saking menjijikkannya—maaf—, in my disgust animals list, hewan yang satu itu sudah memasuki urutan the first lines. Juga merupakan salah satu diatara deretan beberapa hewan menjijikkan lainnya, seperti lalat, tikus, cicak, katak dan masih banyak lagi yang nggak mungkin ane sebutin satu per satu.
Ngomongin hewan di atas ane jadi kepikiran dan nggak habis pikir sama minoritas orang sulawesi sana (pernah dengar di berita). Mereka dengan terang-terangan malah memperjual-belikan sate dari beraneka macam daging hewan menjijikkan. Ada yang dari kelalawar, tikus, ular, kalajengking dan apa lagi ane lupa. Itu orang kok serakah banget sih. Kaya gitu saja dibilang keanekaragaman kuliner, ide konyol sih iya. Mungkin mereka terhimpit faktor ekonomi kali ya sampai tega membuat sate dari hewan tersebut. Tapi kok ya nggak habis pikir banget gitu loh. Lagian dalam syari’at islam mereka (hewan) itu kan haram hukumnya kalau dimakan.
Kembali lagi, pada intinya ane benci banget sama kecoak. ya enggak benci-benci amat sih. Ntar kalau terlalu benci jadinya malah terlalu suka lagi. Seperti yang dijelaskan dalam al-quran dan al-hadis yang intinya menyatakan “boleh jadi kamu menyukainya padahal ia amat buruk bagimu dan boleh jadi kamu membencinya padahal ia amat baik bagimu”, “sukai-lah segala sesuatu dengan sewajarnya karena suatu saat bisa jadi ia menjadi yang kamu benci dan bencilah segala sesuatu dengan wajar karena...—sebaliknya—”.
Haduh kalau sudah gini ane bingung nih gimana caranya kecoak itu lenyap dari peredaran rumah ane. Mana terlanjur banyak banget lagi. Ibaratnya kalau 1 atau 2 sih ane masih sanggup ngatasin. Nah kalau sampai beranak pinak jadinya repot kan. Dan faktanya, tuh kecoak sulit mati walaupun di‘gepuk’ beberapa kali dengan sapu. Ane sampai dibuat kagum olehya. Wah salut deh (hiii), selamat ya (hah!?). Fakta kedua, jangan dikira kecoak langsung mati lo ya ketika dipukul. Pernah ane mati-matian buang tenaga ane untuk mati-in tuh ‘coro’(bahasa jawa: kecoak). Awalnya sih tuh ‘coro’ kelihatan seperti mati alias pura-pura mati tapi kenyataannya apa coba?! Baru ditinggal lihat tv beberapa menit gitu saja tuh kecoak sudah main kabur entah kemana. Sial banget, ane dikibulin habis-habisan sama tuh ‘coro’. Makanya ente jangan suka ngibul ntar kaya kecoak lo.
 Namun, seperti kata pepatah “sekuat-kuatnya musuh pasti kalah juga” atau “sepintar-pintarnya tupai melompat pasti jatuh juga” begitu juga dengan si kecoak. “sekuat-kuatnya kecoak pasti ada kelemahannya”. Kelemahannya terletak pada ketidak-mampuannya (Fakta ketiga) membalikkan tubuhnya setelah ia jungkir balik (posisi telentang). Jika keadaan tersebut dibiarkan, lama-kelamaan akan mati juga tuh coak. Soalnya, tanpa kemampuan untuk mengontrol ototnya, kecoak bisa mati. Rasain ente!
Ane jadi penasaran kenapa Allah SWT menciptakan mahkluk tersebut. Pasti ada manfaat dibalik itu semua. Bukankah semua ciptaan-Nya itu nggak ada yang sia-sia? Namun hingga sekarang ane belum nemu-in jawabannya. Eee atau ente ada yang tahu nih. Kasih tahu dong? pliiiiiis! Ah pelit! Gitu saja nggak mau. Mendingan ane googling deh. Salah sendiri nggak mau jelasin.

Ngomong soal googling ane jadi ingat...eh nggak jadi ding. Ngapain juga ane cerita-in ke ente. Kenapa? Kesel ya marah ya gara-gara ane nggak jadi cerita. Mau protes? Hubungi saja layanan call centre bebas pulsa kami di 0008-8000-999. Dijamin semua keluhan terjawab dan teratasi. Mulai dari keluhan panu, kadas, kurap, jamur,  kutu air dan kutu rambut. Ah ngawur! 

Kamis, 15 Agustus 2013

Tulisan Gado-gado



Thursday, 28 Februari 2013
  
“kapan rindu ini akan bertepi?” --------------------------------------------------------------------------------------------------
Ane coba tanya pada bulan, ia bersembunyi. Coba bertanya malam, ia terlalu gelap. Coba bertanya pada angin yang berhembus, ianya berhembus kencang, tak sampai ane tahu jawabannya ia terlanjur berlalu. Ane mau bertanya pada matahari tapi harus menunggu esok pagi. Ane coba bertanya pada diri sendiri “sudah gila-kah ane ini?”
Ah ente tak tahu sih apa yang ane rasa saat ini. Apa sih yang ente tahu. Paling kalau nggak makan ya minum terus tidur bangun tidur lagi de el el. Astaghfirullahal’adziim. Kok ane jadi gila beneran gini sih menghakimi ente seenak hati ane, berprasangka buruk tak jelas gini. Sebel ane. Ane pesen-in nih pada ente semua jangan kaya ane yang suka berprasangka buruk dan menghakimi pribadi orang tanpa alasan nggak jelas. Nggak boleh ya. Kita kan nggak tahu apa yang sedang terjadi dibalik itu semua. So, kalau menilai segala hal/ sesuatu itu harus dilihat dari semua sisi, dimensi, berbagai sudut pandang dan masalah. Bener nggak sih? Salah ya? Kok ane jadi sok tau gini sih. Nggak apa-apalah daripada ente sok nggak ngerti (tuh kan berprasangka buruk).
Hoamh...
Yah jangan nguap dong. Belum selesai nih tulisan ane. Jangan-jangan tulisan ane ngebosenin, lagi. Okelah kalau begitu kita ganti topik aja ya, fine? Tapi apa ya? (tik..tok..tik..tok—suara jam dinding—).
Huuaaa...
Kok jadi nggak ada bahan untuk cerita gini sih. Apa ini efek dari kegilaan diawal tadi ya. Aah ente sih nggak mau menyuport ane jadi ane kehabisan bahan gini deh.
Aha! (keluar lampu menyala dekat kepala) ane jadi inget nih kata-kata salah satu dosen di kampus ane kalau jadi orang itu harus bisa ‘gombal’. Pasti ente penasaran ya maksudnya apa. Iya aja ya, soalnya kalau ente nggak penasaran berarti tulisan ane berakhir sampai disini dengan ‘cukup sekian dan terimakasih’ dong. Kalau sudah gitu siapa yang rugi, ente kan. Masa ane sih. Oh iya kita lanjut, ntar keburu lupa. To the point aja ya, ‘gombal’ itu singkatan dari G-Gentleman, akhiran man-nya disini bukan berarti man laki-laki tapi manusia. O-Overall, tahu kan? Masa iya tempe sih katanya mahasiswa, pemikir yang intelek tapi arti overall saja nggak tahu, tapi ane yakin kok ente semua pasti tahu. So, nggak perlu dijelasin lagi. M-Much money, kalau yang ini ane yakin one hundred persen milligram pada tahu semua, pokoknya yang berhubungan dengan uang apa sih yang nggak ente tahu. B-Behaviour (yang ini ane agak ragu bener nggak ya singkatannya—maklum ingatan buruk—). A-Attitude, sikap. Bagaimana seseorang menyikapi segala permasalahan dalam hidup termasuk sikap kita atas karuania yang telah dianugrahkan dalam hidup kita (syukur). Dan yang terakhir ini nih yang ane paling suka L-Low profil, nah keren nggak tuh, iya dong. Seberapapun tingginya jabatan, seberapa banyaknya materi yang dipunya, seberapa populernya dan seluas-luasnya kekuasaan yang digenggam kalau ia bisa bersikap ‘low profil’ ane salut deh. Kenapa? Itu berarti ia mampu menguasai dan mengendalikan diri dari segala kemewahan yang menggoda dan tak mengandalkan apa yang sedang ia punyai saat itu (bersikap wara’). Itu berarti juga ia mempunyai sifat rendah hati, tak membangga-banggakan ‘kelebihan’ yang fitrahnya adalah sebuah ‘amanah’ yang wajib dijaga dan dikelola.
Wah serius amat sih bacanya. Santai saja mas bro mbak sist. O..aku tau ente semua pasti bingung kenapa tulisan ane beda dengan tulisan yang kemaren-kemaren. Itu tuh tulisan yang ngaco bin konyol nggak jelas gitu. Yaa sebenarnya nggak ada alasan apa-apa sih kenapa kok alur tulisannya sampai beda gini, kalau yang kemaren agak-agak GJ gitu nah kalau ini seriusan sedikit kali ya. Yaa ane sih hanya ngikutin alur pikiran ane saja, membiarkan ia mengalir begitu saja. Ini tuh sama seperti bentuk ekspresi dari pikiran ane gitu. Yaa daripada nganggur ya kan, mending nulis-nulis gini meski nggak jelas asal-usulnya itung-itung latihan-lah buat nulis. Buat ngamal juga, kalau bisa.
Ente baca gitu paham nggak yang ane sampai-in? Percuma dong ane nulis panjang kali lebar = luas, kalau yang baca saja nggak paham. Alangkah bahagianya ane andai saja ente-ente memahami tulisan ane lebih-lebih terhibur. Ih terlalu ngarep banget sih ane ini.
Enggak kok! Nggak terhibur juga nggak apa-apa toh hati kita kan yang ngerasa. Kalau ente semua bosan bacanya, ditinggal dulu saja juga nggak apa-apa. Mungkin yang pada mau olahraga streching atau apalah namanya, mungkin yang mau makan, baca sambil tiduran atau yang mau boker juga boleh kok, ane nggak ngelarang. Sekalipun di ‘close’ nih tulisan juga ane nyantai saja kok. Yang woles gitu loh.
Eh ngomong-ngomong soal ‘woles’ nih ente pada tahu nggak? ‘Woles’ itu dari kata ‘selow’ (slow = kalem) yang dibalik. Aya-aya wae yah. Ya gitu-lah bahasanya anak alay. Wah tersinggung lagi ya setelah yang kemaren kita bahas habis-habisan. Biasa saja kali gitu saja tersinggung. Kalau sedikit-sedikit tersinggung bagaimana orang mau mengkritik diri kita. Jangankan mengkritik ngomong demi kebaikan kita saja mereka harus pikir ulang. Alasannya sih jaga perasaan yang bersangkutan gitu deh. Ya tahu-lah.
Nih yang perlu diingat kritikan itu tak selalu buruk. Jadi yaa perlu-lah kita lapangin nih dada biar bisa nampung kritikan-kritikan orang gitu. Tong hilap nyakk! Kalau yang masalah ane anggap ‘alay’ itu sih Cuma pendapat ane doang. Nggak salah kan nyata-in pendapat. Ente juga boleh kok. Secara negara ini ‘democrazy’ gitu loh. Ups!
Ini sudah jam berapa ya. Nggak nyangka sudah berhalaman-halaman ane nulis. Sebenernya sih masih kepengen nulis tapi kok ente nggak ngrespon baik gitu sih, kaya agak-agak gimana gitu. Yaa sudah ane akhiri sampai disini dulu ya, lain kali lain kesempatan lain waktu lain hari dan lain-lain kita ketemu lagi atau mungkin sama sekali tidak? Tunggu saja-lah. Bye. ^^p 




Selasa, 13 Agustus 2013

Dia si 'Alay'

Wednesday, 27 februari 2013

Hai...
Hallo everybody... astaghfirullah’adziim.
Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh. Nah gitu dong. Ucap salam. Yang bener. Terus kalau salam jangan kaya anak alay zaman sekarang disingkat-singkat ‘askum-waskum’, ‘semlekum-walaikum’ de.el.el. Sampai-sampai kalau pas update status di facebook saja doanya (alih-alih ngeluh) gini: //ya ‘Awoh’ aku udah nggak kuat!// astaghfirullah! Masa nyebut Asma ALLAH ‘ajja wajjala saja sampai digitu-in. Subhanallah dari apa yang disifatkan oleh mahkluknya. Oke sobat, nggak boleh ya, ntar dimarahin yahnda-bunda loh terus nggak dapet jatah uang saku deh.
Eh iya ane lupa, akhirnya kita jumpa lagi setelah berabad-abad nggak ketemu, ya nggak-ya nggak. Kali ini nggak ada deh ceritanya nggak ada ide lagi soalnya dikepala ane ini sudah tersimpan ribuan bahkan jutaan kata. Jadi nggak ada tuh kata-kata ‘ane lagi nggak punya ide’. Sekarang ane sudah berubah nggak kaya dulu lagi. Zaman saja bisa berubah masa otak ane enggak sih. Setuju nggak?
Nih ane mau cerita. Emm... aduh pake acara lupa segala lagi. Ane tadi mau cerita apa ya kok jadi lupa gini. Oh iya ane baru ingat. Kali ini kita bahas tuh si Alay era 2012/2013, tapi mungkin sudah ada sejak zaman dahulu kala kali ya. Hayo yang ngerasa-yang ngerasa jangan tersungging eh tersanjung, tersandung, (haduuh) jangan tersinggung ya. Itu maksudnya.
Kembali ke lap-top! Nah tentang si alay itu tadi ane pribadi sih sebenernya nggak ada masalah ya. Tappiii, ada tapi-nya. Kalau ke-alay-annya itu sampai merubah essensi dari suatu makna kata atau sedikit melenceng dari—aduh gimana ya bingung ane njelasin—agama kita (al-islam) bukankah menimbulkan kemaslahatan tuh? ente tahu sendiri kan, tuh contohnya ‘alay’ di paragraf atas tadi noh. Kalau menurut ente gimana? Kasih pandangan dong woi! Jangan manggut-manggut geleng-geleng ala keong keracunan gitu.
Tapi kalau alaynya itu masih diambang kewajaran sih ane nggak masalah. Yaa maklum-lah, toh ane juga pernah alay tapi juga nggak kaya alay berlebihan di awal kita bahas tadi. Menurut ane sih alay itu proses menuju kedewasaan loh, layaknya metamorfosa gitu: bayi - anak-anak – ‘alay’ – remaja – dewasa – notula eh motula eh apa sih itu kalau orang sudah jadi kakek-kakek nenek-nenek gitu. Oh ya manula! Gitu saja kok lupa. Yaa itu sih menurut ane nggak tau deh kalau menurut ente. Pikiran ane sama ente kan beda.
Terus ada lagi nih yang update status di facebook tulisannya itu dibuat besar kecil tiap huruf selang-seling gitu, yang bikin ngakak guling-guling nih sampai ada angka yang dibuat huruf. Lebih parahnya sampai-sampai ada huruf yang alih fungsi. Nih misalnya huruf ‘C’ beralih fungsi menjadi ‘S’, ‘E’ jadi ‘I’ terus ‘R’ jadi ‘Y’, kasian banget yah tuh huruf ‘S’, ‘I’ dan ‘R’ jadi nggak laku dong. Lebih kurang ya beginilah statusnya si Alay: //4TdUcH k4ki W la9e cAKit nEeCh, uNtUk cEmU4ny4 tOlOn9!n dUNkZ//, //CeMuMuDt tEyUZz ea k4K4//. Nah alay-nya tuh nggak cuman sampai disitu saja loh. Ada nih temen ane, ane diam-diam buka wall-nya si dia (temen ane) terus ada yang nge-wall gini: //leh nal nggak?//, maksudnya tuh apa coba? apa susahnya sih nulis kata dengan lengkap //boleh kenalan nggak?// nah gitu kan cakep. Mungkin niatnya tuh biar singkat kali ya tapi kok singkatannya itu loh mengkontroversi banget.
Setiap tahun ada saja acara kata atau bahasa atau dialeg yang menunjukkan ke-alay-annya. Ane sampai nggak habis pikir deh. Kok bisa gitu. Dapat ide dari mana coba. Tapi kalau dipikir-pikir kreatif juga ya si alay itu bikin kata yang aneh-aneh meski nyatanya banyak yang booming dan ngetrend, ngalahin trend fashion saat ini. Padahal tanpa launching loh. Terus gueh mestih bilang wow gituh (nah, kan!)
Yaa keseluruhn itu tadi sih pendapat ane ya, setuju nggak setuju ya itu terserah kalian, wajar-lah ya namanya juga pendapat, bebas kok. Ente mau jungkir balik juga nggak ada yang ngelarang. Asal nggak sampai ganggu mahkluk lain saja.

Aduh ane kok ngerasa ngantuk banget ya, aduh gimana ini, aduh gimana ya (ih lebay). Ane pamit undur diri dulu deh kalau gitu. Bye..bye.. eh, wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarokatuh (hei jawab woi jangan diam saja). ^^p

Sejarah judul: Ane lagi nggak punya ide

Saturday, 23 februari 2013

Pagi ini langit menampakkan wajah berduka setelah semalaman
(tengah malam) penuh ia menangis sejadi-jadinya. Ya tengah malam. Saat orang-orang terlelap dengan buaian angin dingin sedangkan mata ini terus terjaga, nampak terang dan tak sedikitpun memperlihatkan tanda-tanda akan terpejam.-------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kini ane berdiam diri dalam kamar, tepatnya ane sedang mengetikkan tulisan-tulisan ini berharap ada secuil ide yang mungkin bisa dijadikan topik pembicaraan kali ini, em mungkin lebih tepat dikatakan sebagai topik untuk penulisan kali ini.
Sebelumnya bismillahirrahmannirohiim.. emm apa ya? Gimana ya mulainya. bantu mikir dong! Jangan Cuma diam aja mantengin tulisan ini mengeja kata demi kata kalimat demi kalimat hingga paragraf berharap ente bisa membaca tulisan ini hingga akhir. Lihat saja, ente terus membacanya padahal belum jelas kearah mana tulisan ini akan terus diketikkan, belum jelas pula tema dari penulisan ini. Jangankan tema, jenis tulisan ini pun tak-lah jelas. Entah ini jenis tulisan fiksi, diary, cerita pendek, karangan bebas ataukah sejenis golongan jin, kuntilanak atau semacamnya (ih ngeri). Bahkan ane sendiri tak habis pikir kok bisa ane ini menjadi sesosok yang tidak jelas hingga tulisan ane pun ikut-ikutan nggak jelas. Awalnya sih ingin menulis sesuatu yang menginspirasi, mungkin kisah yang mengharukan atau cerita yang mengesankan-lah paling tidak. Ane ingin nantinya tulisan ini dapat merubah moody ente sekalian yang pada nggak jelas itu menjadi lebih bersemangat penuh kreatif-inovatif dan senang berkarya demi kemajuan nusa, bangsa dan tanah air tercinta (lebay ya? Nggak kan? Nggak dong pastinya, ya kan? Udah iya-in aja! Biar ane nggak pusing-pusing mikirin argumen ente).
Tuh kan tulisannya keluyuran kemana-mana berserakan kesana-kemari nggak jelas, kalau dalam istilah bahasa jawa-nya seperti “pating pececer” (saat nulis kata “pating pececer” jadi keinget sesuatu deh, hiiii).
Haduh gimana ini mulai dari mana ane nulisnya. Sampai sekarang ide itu belum berkelebatan dalam otak nih. Bantuin napa sih!? Sombong banget nggak mau bantuin. Kaya sesuatu yang pernah ane lihat di trotoar sawah aja (emang ada ya?). kalau disapa diam. Mentang-mentang lagi makan sama teman-temannya. Dipanggil-panggil malah pura-pura nggak dengar lagi. Setelah ane teriak-teriak nih dia Cuma noleh dikit dan bilang “mbeheheheeeek...”. sialan banget kan tuh kambing. Masa ane di-embek-in. Makanye eh makanya jangan sombong, ntar kalau sombong ente tau sendiri kan kaya siapa? Ane nggak bilang lo ya.
Sudah-sudah, ane mau seriusin nih tulisannya. Dengerin baik-baik. Baca dengan serius dan penuh penghayatan, jangan dibaca sambil lalu. Kasihan kan tulisan ane, buatnya aja susah-susah nyari ide nggak ketemu-ketemu giliran situ baca nggak serius. Jadi kelihatan nggak ngeharga-in banget gitu loh. Kalau emang ngerasa bosan membaca dan nganggep tulisan ini seperti karangan sampah mending berhenti mulai dari sekarang deh bacanya. Beneran kok nggak apa-apa, dari pada tulisan ini sakit hati gara-gara ente cuekin.
Udah ya mulai. Eh bentar-bentar, benerin dulu tuh posisi duduk ente. Nggak enak banget dilihatnya. Ntar kram lo otot-ototnya. Kalau kram lama kelamaan kan sakit, terus masuk rumah sakit butuh perawatan serius masuk ruang ICU deh. Iya kalau ruangan ICU rumah sakitnya kosong, kalau penuh gimana coba. Jadi ditolak rumah sakit kan? terus ntar nggak ketulungan itu sakit kramnya. Takutnya ntar kebablasan kaya kisah si bayi kembar ‘dera dan dara’ tapi untung si ‘dera’ masih selamat (kebalik ya?). Kalau udah gitu ente mau nyalahin siapa. Ikut-ikutan nyalahin negara? Atau mau nyalahin tulisan ane? Ya nggak bisa gitu dong! Kan dari awal sudah ane bilangin benerin tuh posisi duduknya, nyaman nggak? enak nggak? Asin nggak? (loh!).
Capek ane lama-kelamaan nulis nggak dapet-dapet ide yang cetar membahana badai angin topan lesus puting beliung, kenapa nggak sekalian reunian aja tuh ‘para angin’ dah ngumpul jadi satu juga. Mulai deh nggak jelas gini tulisannya (tuh kan nggak jelas lagi. Yaiyalah, yang nulis aja nggak jelas gitu apalagi tulisannya).
Okelah, stop! stop! jangan terusin lagi ocehan ente yang nggak jelas itu. Ni mau serius nih (ciyuss? Miapah? Mi goleng. Goleng apa? Goleng ikan dong. Ikan apa? Ikan mas. Mas apa? –Dengan geramnya— MASSSALAH BUAT ENTE!! Puas ente puas). Kita mulai dari mana dulu nih nulisnya? Situ enak tinggal baca. Nah ane? Harus nyiapain milyaran kata-kata demi memuaskan dahaga membaca ente-ente pada. Kurang baik apa coba ane pada ente sekalian. Baik banget kan.
Eh ngomong-ngomong ente sekalian ini terhibur nggak sih dengan tulisan ane yang sedari tadi nggak jelas asal-usulnya nih? Udah jujur aja! Ayo ngaku! Ngaku aja kenapa sih! Ngaku nggak ente! (sambil bawa pistol) Kalau nggak ane laporin ente ke kantor polisi biar dijerat pasal berlapis kaya kue lapis terus masuk penjara terus nggak pernah mandi terus bau kaya sampah terus dikrubuti lalat terusss (nggak berhenti-berhenti) nabrak kejedot tembok, pingsan deh. Masih bersyukur Cuma pingsan, nah kalau kebablasan?
Kembali ke awal ane pengen nanya serius nih jangan bercanda, kehibur nggak ente sama tulisan ane? Atau malah boring ya? Garing ya? Sumpek ya? Sama nih kalau gitu. Ane merasa nyerah dari tadi nggak nemuin ide, jadi yaaa nggak terlalu bermutu gitu deh tulisannya. Padahal niat ane baik lo tadi, ingin menginspirasi ente sekalian. Tapi kok semakin kebawah ane rasa semakin ‘ngawur’. Ya sudah-lah lagian kan Indonesia sudah terlanjur merdeka. Masa iya ane harus backspace tulisan ini terus ngulang ngetik lagi dari awal dan nge-ganti-in tulisan sebelumnya dengan kisah yang lebih ‘wow’. Nggak mungkin banget gitu. Kalau emang sekiranya nggak menghibur dan menginspirasi ente sekalian ane minta maaf deh. Minta maaf sudah maksa dan ngelibatin ente semua untuk membaca tulisan ini. Mendingan ane akhiri saja hubungan ini, eh maksudnya tulisan ini. Habisnya ane sebel nggak dapet-dapet ide yang cetar membahana (nggak pake badai angin topan lesus puting beliung lagi). Ente juga sih nggak mau bantuin ngasih ide, paling nggak kasih saran gitu atau gimana. Bisanya Cuma dieeem aja. Kalau sudah kesambet aja baru tau rasa ente.
Sudah dulu ya kalau gitu ane mau pamit keluar dari microsoft word ini. Sampai jumpa lagi. Entah kapan lagi kita bisa bertemu. 1 bulan 1 tahun 3 tahun atau bahkan a thousand years again tak akan pernah bertemu. Cup-cup jangan nangis gitu aja kok ‘mewek’. Rela-in aja barangkali nggak jodoh kali. Toh kalau jodoh nggak akan kemana bukan?
Sekian terimakasih dan Alhamdulillahirabbil’alamin (sebenernya ane mau nulis kata ‘wassalam’ tapi kok kesannya agak gimana gitu ‘wong’ di awalnya saja pake bissmillah. Mungkin lain kali ane kasih deh salamnya, tapi dijawab lo ya awas kalau enggak!).
Eh eh bentar dulu, ane tadi lupa mau nyampe-in, tulisan ane nih kalau dibaca-baca lebih teliti lagi dari awal sampai akhir ane baru nyadar kalau topik tulisan ini lebih tepatnya “ane lagi nggak punya ide buat nulis” terus untuk judulnya nanti ane buat jadi “sejarah judul: ‘ane lagi nggak punya ide’ ”. Cocok nggak tuh? Paham nggak sih maksud ane? Ah bodo amat mending ane pampang tuh judul di atas tulisan ini.

Nah tulisan ane sudah jadi tulisan yang jelas kan. So, kalimat yang nyata-in ane ‘nggak jelas’ tadi ane tarik ya. Nggak ada masalah kan. Kalau enggak i’m saying good bye. ^^p