Kamis, 28 November 2013

Coretan untuk Kalian



Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Kawan bagaimanakah kabar kalian? Bagaimanakah tentang impian-impian kalian? Apakah kalian masih menyisihkan sedikit tempat di hati dan pikiran kalian, tentang saya? Jujur, saya sering mengingat kalian bahkan sangat merindukan.

Oya ada lagi. Masih ingatkah kalian dengan sebutan ini “koclok forever”? terdengar aneh memang, tapi setiap kali ingat akan hal itu seolah tak bisa tertahankan bibir ini untuk tersenyum. Entah, siapa dulu yang pertamakali mencetuskan sebutan seperti itu.

Atau mungkin, kalian masih ingat saat kita memutuskan untuk pergi ke tempat Book fair di pondok Gontor putra 1? Entahlah saat itu niat kita benar-benar ingin membeli buku atau sekedar melihat orang-orang pondok :D. Tak banyak yang kalian tahu, saat sebelum kita kesana, jauh hari sebelumnya saya mati-matian(hanya kiasan) menyisihkan setiap uang saku agar saya bisa pergi bersama kalian dan akhirnya bisa membeli 2 buah buku dambaan(sampai sekarang masih saya simpan rapi).

Oya saya sampaikan juga kabar baik dari sini (Alhamdulillah), saya pun berharap demikian tentang keadaan kalian. Jika diingat-ingat ternyata lama sudah kita tak bersua, tak sebanding saat kita bersama, itupun dulu. Ternyata ruang dan waktu yang telah memisahkan kita. Semenjak kita sama-sama mengejar impin kita di ruang yang berbeda. Meskipun begitu tidak berarti persahabatan kita (salahkah bila aku mengatakan demikian?) hanya sesaat kita bertemu bukan? Saya tersadar bahwa selama terputus kontak dari kalian saya merasa telah kehilangan kalian (apakah kalian juga sama?)

Seiringnya coretan ini aku ingin minta maaf pada kalian lantaran sebelumnya pernah terlintas keegoisan diri ini enggan untuk mengirimkan sebuah pesan singkat sekedar menanyakan kabar ataupun ucapan kepada kalian.

Berhari-hari sudah tulisan ini tersimpan tak berkutik dalam laptop. Sebenarnya sudah lama tulisan ini ingin aku sampaikan. Oleh sebab terbentur suatu hal maka terurunglah niatku untuk menyampaikannya. Kini aku merasa lega akhirnya hari ini juga aku dapat menyampaikannya. Meski kalian tak membacanya sekarang juga, tak apalah, itu bukan masalah. 

Terimakasih kawan, berkat kalian hidupku dulu menjadi berwarna, terimakasih juga karena kalian bersedia menjadi bagian dari rangkaian cerita hidupku. Aku banyak belajar dari kalian, awal bersama dengan kalian aku jadi  lebih dalam mengenal agama. Ya, tentang islam, hingga kesadaranku sebagai seorang muslim terkuak nyata, akan kewajiban-kewajibanku, dan masih banyak lagi. Aku pun masih mengingatnya, bahwa kita selalu bersemangat dalam hal membicarakan syariat islam juga tentang akhirat. Inilah alasan mengapa aku sangat bersyukur pernah bertemu kalian.

Dengan adanya tulisan ini aku tak sampai berharap banyak untuk kita bisa bertemu berkumpul bersama (barangkali Allah berkehendak mempertemukan kita, akupun sangat bersyukur. Walaupun nantinya kita dipertemukan aku khawatir kalau kita saling canggung untuk sekedar berbicara | semoga tidak yaJ), namun setidaknya persahabatan kita tak cukup sampai kita berpisah. Jangan sampai tali yang sudah kita buat simpul indah itu lepas begitu saja. Jangan lupakan bahwa kita pernah menjadi satu bersama. Semoga Allah SWT tetap menjaga niatan baik dari kita.

Mungkin cukup sampai disini segala curahan yang ingin aku sampaikan, walaupun sebenarnya masih banyak hal berkelebatan dalam pikiran ini yang hendak aku sampaikan. Aku khawatir jika coretan ini terlalu panjang maka kalian akan bosan membacanya J. Sampai jumpa lagi—di waktu yang entah kapan kita akan bersua.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.


Salam sapa dan rinduku
FDP

Minggu, 24 November 2013

Urgensi Sekolah Berbasis IMTAQ


Dewasa ini, dunia pendidikan sedang gencar-gencarnya menyuarakan kurikulum baru yakni kurikulum 2013. Perbedaan yang mencolok pada kurikulum 2013 dengan kurikulum sebelumnya (KTSP) yakni terletak pada pendekatan yang digunakan serta standar isinya. Jika pada standar isi kurikulum sebelumnya menggunakan istilah standar kompetensi maka pada kurikulum baru menjadi kompetensi inti. Jika pada kurikulum sebelumnya hanya terdapat 2 aspek yakni aspek produk dan proses dalam kompetensi dasar maka pada kurikulum baru, dalam kompetensi dasar sudah mencakup 3 aspek yakni aspek produk, proses serta aspek sikap yang mengarah pada ranah religi dan sosial. Sebenarnya yang menjadi pokok di sini bukanlah perubahan kurikulumnya, akan tetapi ketercapaian atas tujuan pendidikanlah yang perlu disoroti.
Salah satu Tujuan pendidikan nasional diantaranya adalah meningkatkan keimanan dan ketaqwaan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa” dan secara tegas dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 bahwa peningkatan Imtaq merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional, yaitu ”mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, akhlak mulia, sehat, beriman, cakap, kreatif, mandiri, dan warga warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Mengapa pada salah satu tujuan pendidikan tersebut diikutsertakan “meningkatkan keimanan dan ketaqwaan” dalam mencerdaskan kehidupan bangsa? Apa pentingnya imtaq dalam dunia pendidikan? Sekarang saatnya kita melihat realitas yang terjadi saat ini. Sudah berapa kali media memuat berita tentang korupsi di negeri ini, sudah berapa banyak pemberitaan tentang tawuran antarpelajar, juga merek yang terjerumus dalam penggunaan narkotika serta penyimpangan-penyimpangan atau kenakalan remaja yang dilakukannya. Tidak kalah hebohnya, pemberitaan yang tak lama ini terjadi yakni tentang perilaku bully yang dilakukan oleh para pelajar SMP 4 di Jakarta. Pun, muncul perilaku-perilaku para pelajar kita yang cenderung memiliki sikap (budaya) hedonis dan konsumtif seiring menjamurnya teknologi saat ini, sehingga memunculkan sikap acuh dan tak acuh terhadap sesama.
Realitasnya pendidikan (sekolah) saat ini kebanyakan bersifat sekuler, tidak mengikutsertakan agama sebagai bagian dari pendidikan. Sekolah sekuler beranggapan bahwa pendidikan tidak ada sangkut pautnya dengan agama. Alhasil, generasi yang dihasilkannyapun jauh dari yang diharapkan. Ditambah lagi munculnya gaya hidup hedonis di kalangan para pelajar, sehingga esensi dari tujuan mereka sebagai seorang pelajar lama kelamaan menjadi tergerus.
 Dari segelintir fakta di atas semakin menegaskan bahwa bangsa kita terutama para generasi muda sedang mengalami apa yang dinamakan degradasi moral. Maka sudah jelaslah, Imtaq merupakan salah satu dasar atau tujuan utama yang penting dalam pendidikan nasional di Indonesia. Untuk mencapai tujuan tersebut, lembaga pendidikan sekolah-lah yang dinilai merupakan salah satu wahana yang sangat efektif untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut, dengan alasan karena melalui proses pendidikan di sekolah peserta didik akan memperoleh bukan saja aspek pengetahuan dan keterampilan, namun juga sikap yang mengarah pada ranah religi dan sosial yang telah disebutkan.
Dalam mewujudkannya, maka tidaklah cukup jika hanya guru mata pelajaran PAI yang mengemban tugas ini sendirian. Akan tetapi seluruh komponen pendidikan di sekolah juga ikut bertanggung jawab dalam upaya peningkatan imtaq. Namun sebenarnya orang tua juga ikut berperan dalam membentuk dan mempersiapkan anak mereka menjadi manusia yang bermoral, beriman dan bertaqwa, sehingga nantinya anak bukan hanya berkualitas dalam segi Intelektual Question (IQ) saja tetapi juga pada sikapnya.
Sudah bukan rahasia lagi, pendidikan yang berbasis imtaq atau pendidikan yang dibangun dengan ESQ (Emosional Spiritual Question) tentu akan menekan degradasi moral yang telah dipaparkan di atas. Jadi, antara IQ dan ESQ setidaknya harus ballance ditanamkan dalam diri siswa atau peserta didik kita.
Lantas bagaimana pengimplementasian sekolah berbasis imtaq tersebut? Perlu adanya kesadaran dari lembaga sekolah termasuk semua komponen di dalamnya bekerjasama untuk menciptakan suasana mendidik yang sarat akan nilai-nilai religius dan bermoral (dalam proses belajar mengajar). Selain mengoptimalkan Pendidikan Agama Islam, kesadaran dari pihak sekolah tersebut bisa juga diwujudkan dengan memberikan keteladanan kepada siswa didik. Misalnya saja, membiasakan siswa di sekolah untuk shalat dhuha dan shalat sunah lainnya (bagi pemeluk islam), berjabat tangan, mengucapkan salam ketika masuk kelas, berdoa sebelum memulai aktivitas (belajar), membiasakan memulai dengan tangan/ kaki kanan sebelum beraktifitas, jujur dalam mengerjakan tugas, mengadakan lomba yang bertajuk pada imtaq semisal lomba qira’ah, kultum, karya tulis bertema islami dan lain sebagainya. Pada intinya pihak sekolah berperan aktif dalam membuat program-program unggulan dalam rangka menciptakan pendidikan atau sekolah berbasiskan Imtaq.
Kelihatannya memang sepele, namun kebiasaan tersebut apabila dilakukan secara berkesinambungan dan dalam kurun waktu yang cukup lama, akan membentuk suatu pola perilaku yang baik. Menjadikan manusia yang berkarakter luhur, sopan santun yang tinggi serta tata krama yang sesuai dengan etika dan estetika tertentu.
Jika saja semua lembaga pendidikan menyadari akan urgennya “pendidikan berbasis Imtaq” maka, generasi yang dihasilkannya pun Insya Allah akan menjadi generasi yang bukan hanya memiliki intelektul akademi saja namun juga memiliki jiwa sosial yang tinggi, peduli dengan sesama, bermoral, beriman, serta bertaqwa.
Keberhasilan pendidikan berbasis imtaq tersebut adalah tugas bersama. Yakni perlu adanya kerjasama antara pihak sekolah dengan PSM (Peran Serta Masyarakat; termasuk juga orang tua) untuk mendukung tujuan tersebut. Mengadakan kerjasama antara PSM tersebut diperkuat, mengingat bahwa lingkungan sekitar/ masyarakat juga berpengaruh terhadap pembentukan sikap/ perilaku sang anak.
Akhir kata, perlu penulis tekankan di sini bahwa, jika kita ingin merubah dunia maka satu langkah awal yang harus kita lakukan adalah merubah sikap dari pada diri kita sendiri. Dalam artian bahwa, jadikanlah diri kita ini sebagai teladan bagi orang lain, mulailah kebaikan dari diri kita sekecil apapun itu.

Sumber rujukan: http://www.pendis.kemenag.go.id/pai/file/dokumen/SekolahBerwawasanImtaq.pdf

Sabtu, 09 November 2013

Menjadikan IPA sebagai pelajaran yang menarik bagi anak SD: ANTARA IPA, PLAS DAN NUMBERED HEADS TOGETHER



Pendidikan kini sedang ramai dibicarakan adanya kurikulum baru yang telah dilaksanakan sejak juli lalu. Tentang bagaimana pembelajaran lebih memberikan pengalaman dan mencari pengetahuan sendiri bagi siswa. Dalam dunia pendidikan selain kurikulum yang berlaku, peran seorang guru membawa dampak besar bagi suksesnya pencapaian tujuan pendidikan. Kualitas dari diri seorang guru yang kini menjadi sorotan publik. Keprofesionalan dan kompetensi dari guru memang perlu diperhatikan dan diujikan. Yakni seberapa besar guru memiliki kompetensi sehingga mampu mengembangkan dan menyajikan materi pelajaran yang aktual dengan menggunakan berbagai pendekatan, metode, dan teknologi pembelajaran terkini. Dari sedikit uraian tersebut, maka sudah menjadi barang tentu bagi seorang guru untuk memikirkan bagaimana agar siswa-siswanya mampu menguasai dan menerima materi pelajaran secara utuh dan menyeluruh, terutama mata pelajaran IPA.
Pada hakikatnya IPA merupakan sekumpulan ilmu pengetahuan tentang objek dan fenomena alam yang dihasilkan dari pemikiran para ilmuwan dengan bereksperimen menggunakan metode-metode ilmiah . Jika kita melihat dari hakikat IPA itu sendiri bukankah mata pelajaran tersebut sangat penting dan menarik untuk dipelajari? Mengingat IPA sangat bermanfaat dan nyata berkaitan erat bagi kehidupan kita sehari-hari. Disamping itu IPA mampu mengubah sikap manusia disertai membangun pola berpikir seseorang terhadap Alam semesta. Misal, gambarannya sebagai berikut: pertama, orang percaya bahwa pelangi adalah selendang bidadari, sedangkan orang IPA mengerti bahwa pelangi suatu pembiasan cahaya oleh bintik-bintik air di udara. Kedua, orang percaya bahwa gerhana bulan terjadi karena ditelan oleh raksasa sakti, sedangkan orang IPA mengatakan gerhana bulan terjadi karena tertutup bayangan bumi. Bukankah sudah jelas bahwa IPA mampu menjawab persoalan-persoalan mengenai fenomena alam? Bukankah IPA sangat menarik untuk dipelajari?
Lantas apa kaitannya antara pentingnya mempelajari IPA dengan kompetensi yang harus dimiliki sebagai seorang guru? Dari awal sudah diungkapkan bahwa IPA secara keseluruhan merupakan mata pelajaran yang penting dan menarik. Kajian IPA juga sangat luas, terdiri dari beberapa disiplin ilmu diantaranya biologi, fisika, ekologi, geologi, kimia. Oleh sebab kajian IPA yang sangat luas tersebut terkadang siswa SD kurang semangat/ antusias dalam mempelajari IPA. Padahal dengan mempelajari IPA justru akan membuka wawasan mereka terhadap hal-hal (dalam lingkup kajian IPA) yang belum mereka ketahui secara gamblang. Maka dari itu, dalam proses pembelajaran di sekolah untuk menyampaikan materi IPA diperlukan seorang guru yang memiliki kompetensi yang memadai. Kompetensi diantaranya: bagaimana seorang guru mampu merancang pembelajaran agar mata pelajaran IPA menjadi mata pelajaran yang menarik. Memadu padankan beberapa pendekatan dan metode agar stigma awal siswa terhadap mata pelajaran IPA adalah menyenangkan.
Untuk mewujudkannya, guru bisa menggunakan pendekatan pembelajaran lingkungan alam sekitar atau disebut dengan PLAS. Pendekatan tersebut memiliki kecenderungan untuk selalu memanfaatkan fasilitas yang tersedia di lingkungan alam sekitar dalam proses pembelajaran. Mengapa harus PLAS? Pertama, PLAS sesuai dengan karakter IPA yang sebagian besar mempelajari tentang objek dan fenomena alam. Kedua, PLAS lebih menitikberatkan pada keterlibatan indera dan pemikiran anak sendiri. Jadi pembelajaran yang berlangsung tidak sebatas pada kegiatan membaca buku, dan menghafalkan definisi saja. Ketiga, PLAS menekankan untuk mempraktekkan keterampilan secara langsung tentang cara bertani, berkebun, mengukur lebar pohon dll. Dengan demikian pembelajaran IPA akan terasa lebih bermakna dan menyenangkan karena siswa dilibatkan secara langsung.
Untuk membuat matpel IPA semakin menarik dan untuk membuat siswa menguasai materi dengan menyenangkan, guru bisa mengembangkan PLAS dengan memadu padankan model Numbered Heads Together (kepala benomor), yakni model pembelajaran secara berkelompok. Model tersebut merupakan model pembelajaran semisal kuis. Diperlukan keterampilan berdiskusi agar siswa mampu menguasai materi yang telah dibagi. Pertama, siswa dibagi dalam kelompok, setiap anggota dalam setiap kelompok mendapat nomor, kemudian guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya. Kedua, kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota kelompok mampu mengerjakannya/mengetahui jawabannya. Ketiga, guru memanggil salah satu nomor siswa dan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerja mereka. Pada langkah pembelajaran ketiga ini, guru menguji kemampuan siswa dengan memberikan pertanyaan seputar materi yang telah didiskusikan pada kelompoknya. Kegiatan tersebut akan terus berlanjut sampai masing-masing siswa mendapat gilirannya. Setelah semua dirasa mampu menguasi materi, selanjutnya guru memberikan reward, menyimpulkan hasil pembelajaran dan melakukan refleksi.
Model pembelajaran di atas dapat dikatakan sebagai belajar sambil bermain, karena siswa tidak benar-benar dituntut untuk bisa menguasai materi, akan tetapi memperlihatkan pada siswa bahwa mata pelajaran IPA sangat menyenangkan untuk dipelajari, serta juga untuk mengetahui seberapa jauh minat siswa terhadap mata pelajaran IPA. (1. Dikutip dari: makalah kelompok 1 tugas pengembangan pembelajaran sains SD 2. Dikutip dari: http://rudy-unesa.blogspot.com/2010/12/hakikat-dan-fungsi-ilmu-pengetahuanalam.html)